Rabu

menemukan sejarah

Secara terminologis, kata ‘sejarah’ diambil dari bahasa Arab, ‘syajaratun’ yang berarti pohon.
Secara istilah saja, kata ini memberikan gambaran sebuah pertumbuhan peradaban manusia dengan perlambang ‘pohon’. Yang tumbuh bermula dari biji yang kecil menjadi pohon yang lebat rindang dan berkesinambungan.
Oleh karena itu, untuk dapat menangkap pelajaran dari pesan-pesan sejarah di dalamnya, memerlukan kemampuan menangkap yang tersirat sebagai ibarat atau ibrah di dalamnya. Seperti yang tersurat dalam Q.S. 12: 111, “laqad kana fi qashasihim ‘ibratun li ulil albab”. Sesungguhnya dalam sejarah itu terdapat pesan-pesan sejarah yang penuh perlambang, bagi orang-orang yang memahaminya.
Sementara, pengertian sejarah bagi sementara orang hanyalah dianggap sebagai pelajaran hafalan tentang peristiwa yang pernah terjadi, dan tidak akan pernah terulang kembali. Sebagai suatu peristiwa yang telah selesai, yang berhenti sampai saat dan di tempat itu saja. Hingga tak heran kemudian sering kita mendengar orang berpesan, “Yang sudah berlalu biarlah berlalu, lupakan saja biar menjadi sejarah.”
Barangkali sukarnya  memahami arti “sejarah” di kalangan ummat Islam, juga disebabkan tidak digunakannya istilah ini di kalangan ummat Islam sendiri. Salah satunya, karena di pesantren atau pun madrasah yang digunakan justru istilah “tarikh”. Padahal dalam Al-Qur’an peristiwa sejarah ini lebih dikaitkan dengan masalah pemaknaan “syajarah”.
Al-Baqarah: 23, “wa la taqraba hadzihi syajarah.”
Al-A’raf: 10, “wa la taqraba hadzihi syajarah.”
Al-A’raf: 22, “alam anhakuma ‘an tilkumasy syajarah.”
Ibrahim: 24, “masalan kalimatan thayibatan kasyajaratin thayyibah.”
Ibrahim: 26, “wa mansyalatu kalimatin khabisyatin kasyajaratin khabisyah.”
Al-Isra: 60, “syajaratul mal’unah.”
Thaha: 120, “ya adamu hal adulluka ‘ala syajaratil khuldi.”
Al-Mu’minun: 20, “wa syajaratan takhruju min thurisaina.”
An-Nur: 35, “min syajaratin mubarakah.”
Al-Qashash: 30, “fi buq’atil mubarakati minasy syajarati ayya Musa.”
Maka sesungguhnya, dari petunjuk Al Qur’an di atas, pengertian “syajarah” berkaitan erat dengan “perubahan”. Perubahan yang bermakna “gerak” menuju ke bumi untuk menerima dan menjalankan fungsi sebagai “khalifah” (Q.S. 2: 35 dan Q.S. 7: 19, 22).
Juga merupakan sebuah penggambaran keberhasilan yang dicapai Nabi Musa yang diibaratkan sebagai pohon yang tinggi dan tumbuh di tempat yang tinggi (Q.S. 28: 30). Sebaliknya, Al-Qur’an juga memberikan gambaran kegagalan Nabi Yunus yang dilukiskan sebagai ‘pohon labu’ yang rendah dan lemah (Q.S. 37: 146).
Sementara bagi yang mencoba menciptakan sejarah dengan menjauhkan dirinya dari petunjuk Allah, hasilnya hanyalah akan menumbuhkan sebatang ‘pohon pahit’ (Q.S. 37: 62, 64 dan Q.S. 44: 43.). Namun ketika petunjuk Allah digunkan sebagai pedopan, ia diibaratkan sebagai ‘pelita kaca yang bercahaya seperti mutiara’ dan dinyalakan dengan bahan bakar min syajaratin mubarakah (Q.S. 24: 35)
Begitulah pembahasan pentingnya belajar membaca sejarah yang diambil dari dalil Al-Qur’an. Sebuah pelajaran berharga yang  kudapatkan dari sebuah buku yang pernah kubaca 16 tahun lalu. Buku lama berjudul “Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia” karya Ahmad Mansyur Suryanegera.  Buku yang kemudian membuatku mengenal sosok seorang sejarawan yang konsen dengan sejarah Islam di Indonesia yang cenderung dilupakan dari ingatan.
Yang karena buku itu pula, aku menjadi terpantik untuk menuliskan ulang tentang sejarah keruntuhan Kesultanan Demak dalam novel Penangsang. Dan Prof Ahmad Mansyur Suryanegara, pakar sejarah dari Universitas Pajajaran yang telah membukukan penemuan sejarahnya dalam 2 jilid tebal berjudul  “Api Sejarah” itu pun mendukung niatanku.
Bahkan kemudian memberikan komentar dalam novel keduaku, “Peristiwa sejarah seperti Penangsang perlu dikaji ulang oleh banyak pencinta sejarah karena di dalamnya terdapat pelajaran dan contoh-contoh yang bisa membuat pembaca kuat hatinya. Penangsang, perjalanan sejarahnya telah banyak ditulis setiap penulis dengan berbagai versi. Novel ini juga merupakan salah satu versi penulisan yang memperkaya tentang perjalanan sejarah Penangsang.”
Maka aku menjadi yakin sekarang, bahwa dengan belajar sejarah kita menjadi bisa berkaca, untuk tidak salah arah dan salah langkah. Dan dengan menuliskan Penangsang, aku kembali mengeja kisah yang kadang terlupakan, yang tidak tersurat, namun tersirat dalam “syajaratun”.  Sekaligus juga usaha untuk terus ‘menemukan’ tafsir ulang sejarah.

Keutamaan dzikir dalam hati

Dzikir terbagi ke dalam dua macam: Dziikir hati dan dzikir lisan. Masing-masing keduanya mempunyai pijakan dalil dari Al-Quran dan Sunnah. Berdzikir dengan lisan bisa dilakukan dengan melafalkan huruf perhuruf secara lantang (bersuara). Karenanya,d zikir jenis ini tidak mudah untuk dipraktekkan dalam setiap saat. Sebab pada saat melakukan jual beli di pasar dan yang sejenisnya sama sekali akan mengganggu seorang yang sedang berdzikir. Dengan demikian, otomatis lisannya akan berhenti berdzikir.
Berbeda halnya dengan dzikir hati, yaitu berdzikir dengan mengkonsentrasikan diri pada suatu makna (di dalam hati) yang tidak tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang berdzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apa pun juga.
Berdzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara
Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan
Dzkir jenis ini adalah cara berdzikir yang paling utama
Jenis dzikir ini banyak diamalkan oleh para tokoh
Oleh karena itulah, para pembesar Tarekat Naqsyabandiyyah lebih memilih dzikir hati. Juga karena hati merrupakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayamnya iman, tempat bersumbernya rahasia, dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw..
Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu pula ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya). Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus.
Allah Swt. berfirman, Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka (QS Al-Mujâdilah [58]: 22).
Dan firman-Nya, Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa (QS Al-Hujurât [49]: 3).
Firman-Nya pula, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu (QS Al-A‘râf [7]: 20).
Yakni, berdzikir di dalam hatimu. Ini berdasarkan firman Allah, Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” (QS Al-Mujâdilah [58]: 8). Allah Swt. berfirman pula, Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (QS Al-A‘râf [7]: 55).
Dari ‘Âisyah r.a., beliau berkata bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Zikir (dengan tak bersuara) lebih unggul daripada dzikir (dengan bersuara) selisih tujuh puluh kali lipat. Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal makhluk-makhluk-Nya sesuai amalnya. Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka, ‘Lihatlah apakah ada amalan yang masih tersisa pada hamba-Ku ini?’ Para malaikat itu menjawab, ‘Kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya.’ Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), ‘Kamu mempunyuai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya. Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa zikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR Al-Baihaqî).
Dalam beberapa kitab yang memuat kompilasi hadis sahih, Nabi Saw bersabda, “Allah Swt berfirman, ‘Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia daripada orang banyak saat ia mengingat-Ku.” (HR Al-Bukhârî dan ahli hadis lainnya).
Abû ‘Awânah dan Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadis sahih mereka, juga Al-Baihaqî sebuah hadis berikut, “Sebaik-baik zikir adalah zikir dengan samar (khafî) dan sebaik-baik rezeki adalah rezeki yang mencukupi.” Nabi Saw. juga bersabda, “Zikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencacat amal (maksudnya zikir khafî) mengungguli atas zikir yang dapat didengar oleh mereka (zikir jahrî) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR al-Baihaqi). Menurut ulama yang mentakhrij hadis tersebut, hadis itu dinilai sebagai hadis hasan li ghairihi. Hadis-hadis lainnya yang berbicara tentang keutamaan zikir khafî masih banyak sekali.
Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan, “Berzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan zikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng dari bahaya-bahya yang merongrong mereka. Karena bahaya (musibah) yang datang pada seorang hamba lalu hatinya kaget terperanjat dan langsung mengingat Allah, maka itu akan mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak diinginkannya.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.”
Syaikh Abû Sa‘îd Al-Kharrâz berkata, “Jika Allah ingin menjadikan seorang hamba sebagai kekasih-Nya, maka Dia akan membukakan pintu mengingat-Nya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam mengingat-Nya, maka Dia akan membukakan pintu keakrakaban-Nya lalu diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira. Setelah itu, Dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid. Kemudian disingkapkan tirai yang menutupi-Nya. Hamba itu lalu dimasukkan ke suatu ruangan khusus tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk. Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai pengakuan-pengakuan dirinya.”
Khâlid bin Ma‘dan berkata, “Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena dunia. Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka Dia akan membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya. Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia kegaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika Allah menginginkan hamba-Nya pada hal yang sebaliknya (bukan kebaikan), maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada di dalam hatinya.”
Ahmad bin Hadhrawaih juga berkata, “Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan, maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebatilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.”
Dzu Al-Nûn Al-Misrî berkata, “Satu jam dengan hati yang baik lebih utama daripada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung, maka bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?!” Seorang agung yang telah menggapai tahapan makrifat, Abû Al-Hasan Al-Syâdzilî berkata, “Sebiji atom amalan-amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriyah (anggota tubuh) sebesar gunung.”
Berbeda halnya dengan zikir hati, yaitu berzikir dengan mengkonsentrasikan diri pada suatu makna (di dalam hati) yang tidak tersusun dari rangkaian huruf dan suara. Karenanya, seorang yang sedang berzikir jenis ini tidak akan terganggu oleh apa pun juga. Berzikirlah mengingat Allah dengan hatimu tanpa bersuara Tanpa diketahui oleh orang lain dan tanpa ada lafal dan ucapan yang dikeluarkan Zikir jenis ini adalah cara berzikir yang paling utama Jenis zikir ini banyak diamalkan oleh pNaqsyabandiyyah lebih memilih zikir hati. Juga karena hati meripakan tempat pengawasan Allah, tempat bersemayamnya iman, tempat bersumbernya rahasia, dan tempat bertenggernya cahaya. Hati yang baik akan mengakibatkan jasad seluruhnya menjadi baik. Begitu juga hati yang buruk akan berdampak menjadikan jasad menjadi buruk. Ini seperti yang telah dipaparkan oleh Rasulullah Saw.. Karenanya, seorang hamba tidak dikatakan mukmin, jika hatinya tidak terpaut pada apa yang harus diimaninya. Begitu pula ibadah yang menjadi tujuan tidak akan sah jika tidak menyertainya dengan niat (di dalam hatinya).
Para imam sepakat bahwa semua pekerjaan yang dilakukan oleh anggota tubuh tidak akan diterima kecuali dengan peranan hati. Hati sendiri dapat berperan (mampu berjalan sendiri) tanpa dituntun oleh anggota tubuh lainnya. Jika hati sudah tidak berperan lagi, maka keimanan seseorang tidak akan diterima. Ini disebabkan karena iman merupakan sikap pembenaran apa yang diimani oleh hatinya dengan tulus. Allah Swt. berfirman, Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka (QS Al-Mujâdilah [58]: 22). Dan firman-Nya, Mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa (QS Al-Hujurât [49]: 3). Firman-Nya pula, Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu (QS Al-A‘râf [7]: 20). Yakni, berzikir di dalam hatimu. Ini berdasarkan firman Allah, Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” (QS Al-Mujâdilah [58]: 8). Allah Swt. berfirman pula, Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut (QS Al-A‘râf [7]: 55). Dari ‘Âisyah r.a., beliau berkata bahwa Nabi Saw. pernah bersabda, “Zikir (dengan tak bersuara) lebih unggul daripada zikir (dengan bersuara) selisih tujuh puluh kali lipat.
Jika tiba saatnya hari kiamat, maka Allah akan mengembalikan semua perhitungan amal makhluk-makhluk-Nya sesuai amalnya. Para malaikat pencatat amal datang dengan membawa tulisan-tulisan mereka. Allah berkata pada mereka, ‘Lihatlah apakah ada amalan yang masih tersisa pada hamba-Ku ini?’ Para malaikat itu menjawab, ‘Kami tidak meninggalkan sedikit pun amalan yang kami ketahui kecuali kami mencatat dan menulisnya.’ Allah lalu berkata lagi (pada hamba-Nya itu), ‘Kamu mempenyuai amal kebaikan yang hanya Aku yang mengetahuinya. Aku akan membalas amal kebaikanmu itu. Kebaikanmu itu berupa zikir dengan sembunyi (tak bersuara).” (HR Al-Baihaqî). Dalam beberapa kitab yang memuat kompilasi hadis sahih, Nabi Saw bersabda, “Allah Swt berfirman, ‘Aku ini (bertindak) sesuai dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun menyebutnya sendiri. Jika dia mengingat-Ku di tengah-tengah orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tengah-tengah orang banyak yang lebih mulia daripada orang banyak saat ia mengingat-Ku.” (HR Al-Bukhârî dan ahli hadis lainnya). Abû ‘Awânah dan Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam masing-masing kitab kumpulan hadis sahih mereka, juga Al-Baihaqî sebuah hadis berikut, “Sebaik-baik zikir adalah zikir dengan samar (khafî) dan sebaik-baik rezeki adalah rezeki yang mencukupi.”
Nabi Saw. juga bersabda, “Zikir yang tidak terdengar oleh malaikat pencacat amal (maksudnya zikir khafî) mengungguli atas zikir yang dapat didengar oleh mereka (zikir jahrî) sebanyak tujuh puluh kali lipat.” (HR al-Baihaqi). Menurut ulama yang mentakhrij hadis tersebut, hadis itu dinilai sebagai hadis hasan li ghairihi. Hadis-hadis lainnya yang berbicara tentang keutamaan zikir khafî masih banyak sekali. Sebagian orang yang telah mencapai tahapan makrifat mengatakan, “Berzikir dengan hati adalah pedangnya orang-orang yang meniti jalan ruhani. Dengan zikir itu, mereka bisa membunuh habis musuh-musuh mereka dan menjadi tameng dari bahaya-bahya yang merongrong mereka. Karena bahaya (musibah) yang datang pada seorang hamba lalu hatinya kaget terperanjat dan langsung mengingat Allah, maka itu akan mencegahnya dari segala sesuatu yang tidak diinginkannya.” Orang-orang yang telah makrifat ini juga berkata, “Siapa saja yang diinginkan baik oleh Allah, maka akan dibukakan penutup hatinya dan ditanamkan keyakinan di dalamnya.”
Syaikh Abû Sa‘îd Al-Kharrâz berkata, “Jika Allah ingin menjadikan seorang hamba sebagai kekasih-Nya, maka Dia akan membukakan pintu mengingat-Nya. Jika hamba tersebut sudah merasa kelezatan dalam mengingat-Nya, maka Dia akan membukakan pintu keakrakaban-Nya lalu diangkatlah hamba itu ke tempat yang serba nikmat dan senang gembira. Setelah itu, Dia akan mendudukkan hamba tersebut di atas kursi tauhid. Kemudian disingkapkan tirai yang menutupi-Nya. Hamba itu lalu dimasukkan ke suatu ruangan khusus tersendiri. Di sanalah, ia akan bisa melihat kebesaran dan keagungan-Nya. Ketika pandangannya tertuju pada kebesaran dan keagungan-Nya, maka dia sudah tidak merasa lagi sebagai makhluk. Karena saat itu ia telah menjadi masa yang fana. Lalu dia pun selalu berada dalam lindungan-Nya dan merasa terbebas dari berbagai pengakuan-pengakuan dirinya.” Khâlid bin Ma‘dan berkata, “Seorang hamba pasti mempunyai dua mata di mukanya yang digunakan untuk melihat fenomena dunia. Selain itu, ia juga memiliki dua mata lagi yang terletak di dalam hatinya yang digunakan untuk melihat fenomena akhirat. Ketika Allah menginginkan hamba tersebut menjadi orang yang baik, maka Dia akan membukakan kedua mata hamba itu yang ada di dalam hatinya.
Dengan demikian, kedua mata hatinya itu mampu melihat rahasia-rahasia kegaiban yang dijanjikan Allah. Lalu ketika Allah menginginkan hamba-Nya pada hal yang sebaliknya (bukan kebaikan), maka Allah tidak memperdulikan apa yang ada di dalam hatinya.” Ahmad bin Hadhrawaih juga berkata, “Hati adalah wadah. Jika wadah itu penuh dengan kebajikan, maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh dengan kebatilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertambah ketika sampai pada anggota tubuhnya.” Dzu Al-Nûn Al-Misrî berkata, “Satu jam dengan hati yang baik lebih utama daripada ibadah seluruh manusia dan jin. Jika malaikat saja tidak masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung, maka bagaimana para pembawa kebajikan itu mau masuk pada seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi dengan sesuatu selain Allah?!” Seorang agung yang telah menggapai tahapan makrifat, Abû Al-Hasan Al-Syâdzilî berkata, “Sebiji atom amalan-amalan hati sama nilainya dengan amalan-amalan lahiriyah (anggota tubuh) sebesar gunung.”

Selasa

SUFI WANITA ROBI’AH AL-’ADWIYAH




صورة للضريح والمقام

بسم الله الرحمن الرحيم
آلا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون
رابعة العدوية
شهيدة العشق الإلهي
صورة
1- كلمة الكاتب 
2- ماذا قال ابن خلكان 
3- الجوزى 
4- الطبقات الكبرى للشعرانى
5- السخاوى 
6- سعاد ماهر
7- سيرة أعلام النبلاء
( العشق ) ( الحب ) ( الإلهام )
1- كلمات مرتبطة بعضها ببعض فالحب أنواع كثيرة ومفهومة كثير فمنه حب الهوى وحب النساء وحب الدنيا وحب المال وحب الأهل وحب الوالدين وحب الزوجة وحب الأولاد فهذا كله منهم الحرام ومنه الحلال فأيهما أقرب إليك ؟ وأيهما تعشق ؟ فكل شىء للأنسان متاح كلا على هواه ولكن تعالى ننظر إلى حب آخر وعشق فى ظلمة اليالى فتخيل لو رأيت مارأيت فى كل ليلة ولو أنشغل عقلك بعشق المحبوب لحبيبه فماذا يقول لك عقلك الباطن وماذا ترى فى منامك تعالى معى لنرى ونستمتع بهذه الكلمات البسيطة ولعلى أفلح فى توصيل ما يدور بخاطرى لأحبابى وأسيادى ومعذرة لأخى القارىء فى عدم دقة الأسلوب *
أخى وأختى الفاضلة لقد رأيت فى منامى عدة مرات سيدنا وحبيبنا وشفيعنا صلى الله عليه وسلم وما كتبت عن ولى ولا حضرت ندوة أو درس لعالم إلا أن رأيته رؤية العين المجردة فالله أمرزقنا حبهم وحب من يحبهم وحب ما يقربنا إلى حبهم واللهم متعنا بالنظر إلى وجهك الكريم فى الدنيا والآخرة *** تعالى نعيش مع الحب والعشق الإلهى مع شهيدة حبه وعشقه العاشقة سيدتنا رابعة العدوية رضى الله تعالى عنها *
من العابدات القانتات الحافظات لكتاب الله وسنة رسولنا الكريم  – شديدة الحب لله عز وجل – تناجى ربها ليلا ونهارا – كثيرة البكاء والخوف من الله- تقوم الليل وتصوم النهار – إذا سمعت ذكر النار غشى عليها زمانا – وكانت تقول استغفارنا يحتاج إلى استغفار – وكان كفنها موضع سجودهـا فكانت موضع سجودها كهيئة الماء من كثرة البكاء وهى تنتمي إلى الجيل الأول من الصوفية .
صورة
2- ويقول ابن خلكان في وفيات الأعيان :
===================
إن رابعة العدوية هي أم الخـير رابعة بنت إسماعيل البصرية ، مولاة آل عتيك الصالحة المشهورة . ويؤكد الحافظ فيقول : إن رابعة مولاة لآل عتيك بنو عدوة ولهذا تسمى العدوية واسمها أيضا بالقيسية – أما كنيتها فأم الخير – وهى بنت إسماعيل – وقد عاشت ما يقرب من ثمانين عاما أو يزيد – وإنـها ولدت في أوائل القرن الثاني الهجري وبذلك تكون عاشت سنواتها الأولي في العصر الأموي وبقية حياتها في العصر العباسي .

3- ويقول ابن الجوزى :
============
أتت رابعة إلى الدنيا ولم يكن في بيتها شيء لأن والدها كان فقيرا – وكان لرابعة ثلاثة أخوات فسميت برابعة لأنها رابعتهن – وكانت تتهجد وتقوم الليل كله في خلوتها وجمعت رابعة حولها كثيرا من المريدين والأصحاب الذين وفدوا إلى مجلسها وكان بينهم ( مالك بن دينار – والزاهد رياح – وسفيان الثوري –0 وشقيق البلخى ) – ووهبت رابعة نفسها إلى المحب الأسمى لا تفكر في الزواج لأنه على الأقل سيصرفها عن كثرة الانشغال بالله ومن كرامات رابعة إن المناوى يروى : إنها زرعت زرعا فوقع عليه الجراد فقالت: إلـهي رزقي تكفلت – به فإن شئت أطعمه أعدائك أو أوليائك – فطار الجراد كأنه لم يكن .

ويروى أيضا : أنـها حجت على بعير لـها فمات قبل بلوغها منزلـها فسألت الله أن يحيه – فركبت حتى وصلت إلى دارها فخر ميت .
صورة
ويروى نفس الخـبر العطار فيقول :
=====================
إن من معها قالوا لـها نحمل عنك متاعك فقالت لهم : ما كان اعتمادي عليكم حينما أتيت بل ثقتي بالله تعالى فارحلوا إذن …. ثم ينهض الحمار مليئا بالحيوية فتلحق بالقافلة – وسمعت رضى الله عنها سفيان يقول و احزناه فقالت له : واقلة حزناه ولو كنت حزينا ما هناك العيش . وقالت خادمة لها : من يدلنا على حبيبنا ؟ فقالت رابعة حبيبنا معنا ولكن الدنيا قطعتنا عنه

وقال الثوري لرابعة : ما حقيقة إيمانك فقالت : ما عبدته خوفا من ناره ولا حبا لجنته فأكون كالأجير السوء بل عبدته حبا له وشوقا إليه . وكانت تقول :
- اللهم إني أعوذ بك من كل ما يشغلني عنك …. وفى كل حائل يحول بيني وبينك .
- اللهم اجعل الجنة لأحبائك …. والنار لا عدائك …. و أما أنا فحسبي أنت .

ومن اجمل أبيات الشعرية لها :

العشق الإلهي”
رابعة العدوية

(1)

أحبك حبين حب الهوي وحباً لأنك أهل لذاك.
فأما الذي هو حب الهوي فشغلي بذكرك عمن سواك.
أما الذي أنت أهل له فكشفك لي الحجب حتي أراك.
فلا الحمد في ذا ولا ذاك لي ولكن لك الحمد في ذا وذاك.

(2)

* إلهي أنارت النجوم، ونامت العيون، وغلَّقت الملوك أبوابها، وخلا كل حبيب بحبيبه، وهذا مقامي بين يديك.. إلهي هذا الليل قد أدبر، وهذا النهار قد أسفر، فليت شعري أقبلت منى ليلتي فأهنأ، أم رددتها على فأعزى، فوعزتك هذا دأبي ما أحييتني وأعنتني، وعزتك لو طردتني عن بابك ما برحت عنه لما وقع في قلبي من محبتك.

(3)

وقيل أيضاً : إن سفيان الثوري قال لها ذات يوم : « صفي لي درجة ايمانك واعتقادك باللّه جلّ وعلا ، فقالت رابعة : إنّي لا أعبد اللّه شوقاً إلى الجنة ، ولا خوفاً من جهنم ، وإنما اعبده لكمال شوقي إليه ، ولاداء شرائط العبودية »
(4)


قصيدة راحتي في خلوتي.

صورة
راحتي يا أخوتي في خلوتي
وحبيبي دائماً في حضرتي
لم أجد لي عن هواه عوضاً
وهواه في البرايا محنتي
حيثما كنت أشاهد حسنه
فهو محرابي إليه قبلتي
إن أمت وجداً وماثم رضا
واعناني في الورى وشقوتي
يا طبيب القلب يا كل المنى
جد بوصل منك يشفي مهجتي
يا سروري وحياتي دائماً
نشأتي منك وأيضاً نشوتي
قد هجرت الخلق جميعاً ارتجي
منك وصلاً فهل أقضي أمنيتي


صورة



ورد في كتاب ” أعلام النساء المؤمنات”
مُحَمَّد الحَسُّونْ و اُم عَلي مَشكُور
الصادر عن دار الأسوة للطباعة والنّشر/إيران بعض قصائد رابعة العدوية :

يـا خليّ البال قد حـرت الفكـر * صمّ عـن غيرك سمعي والبصر
هجـت نـار الحبّ فـي وجنتنا * لـن لنـا قلبـاً قسيـاً كـالحجر
أرجـع النظــرة فينـا مـقبلاً * لا تـركنـا كـهشيم المحتضـر
لـيس ينجيني مـن الغم سـوى * أجـل جـاء وأمـر قـد قـدر
ضجّت النفس مـن الموت أسـى * قلتها كوني كمن يهـوى السفر
إنّمـا فيهـا نـزلنـا عـابـرين * لـيست الدنيـا لنـا دار مـقر
مـضت النـاس علـى قنطـرة * أنـت تـمضين عليهـا بـحذر
لا منـاص اليـوم ممّـا نـزلت * فتنـاديــن بهـا أيـن المفـر
فامسكي بالعروة الوثقـى التـي * إن تـمسكتِ بهـا تَلقـي الظفر
سادة قـد طـابت الأرض بهـم * حيث ما ينحون من رجس طهـر
في دجى الليل الغواشي المظلـم * بعضهم شمس وبـعض كـالقمر
في سماء المجد أبدوا مشـرقين * أنـجم تعـدادهـا اثنـي عشـر
هـم أمـان الخلـق طـرّاً كلمّـا * غـاب نجـم مـنهم نجم زهـر
هم عمـاد الـدين أنـوار الهدى * مَـن تولاهـم نجى مـن كلّ شر
هم ولاة الأمـر بعـد المصطفى * بـولاهـم كـلّ ذنـب يغتفــر
عن صراط الحـقّ مَـن شايعهم * عـاجلاً سهلاً بـلا خـوف عَبـر
خاتـم فيهـم كختـم الأنبيــاء * معلـن الحــقّ وقتّـال الكفـر
هــو حــبل الله للمعتصميـن * لعــدوّ الله ســيف مشتهـر
سيدي قد ذاب قلبي فـي هـواك * لا تـدعني إنّ دائـي ذو خطـر

و في قصيدة أخرى :

خليلي ألا تدنو إلـى عيـن رائـق * تــروّ بكـأسٍ سـائـغ متــورّد
ورحل بهذا الدار وابـغ منـازلاً * رفيعـاً وسيعـاً زاكيـاً ذا تــسدّد
وجالس مع الأبرار واذكـر هنا لهم * حـديث حـبيب مـشفـق متـودد
فـطيّب لنـا نفساً بـذكر نـوالـه * وفـرّج بنـا همّـاً ببشـر مجـدد
هو الأصل في الإيجاد والكل فرعـه * بمـولـده كـان الصفـيّ مـولـد
فأحمـد إن كـان ابـن آدم صورة * وبـالصدق معنـا آدم بـن مـحمّد
هو العلم المأثور فـي ظلم الدجـى * هو العمد الممدود فـي كل مـرصد
هو الكوكب الدري فـي وسط السما * بـه مـن مضلات الغواشي لنهتدي
هو الأمن والإيمان والكهف والهدى * وهـذا هـو الديـن القويـم المؤيّد
وعتـرتُه خيـر البـريــة كلّهـا * هـم العـروة الوثقى وقصر المشيّد
بهـم فتـح الله الاُمـور بأسرهـا * علـى الخلـق طـراً ظلهـم متمدد
فهم حجج الرحمن قدماً على الورى * وفيهـم كتـاب الله بـالحقّ يشهـد
معاندهم لـو كـانت الأرض كلهّـا * لهـا ذهبـاً مـلآى بـذاك ليفتـدي
وشيعتهـم يـوم القيامـة حولهـم * علـى سـرر مستبشـرين مـروّد
لهم كلّ ما تشهي النفوس وكلّ مـا * تلـذ بـه الأبصار فـي كـل مورد
يقولون : أتمـم ربنـا نورنـا لنـا * فإنـا لهــذا اليـوم كنّـا نـزوّد
مـلائـكة يستقبلـون قـدومهـم * يـرونـهم مـن طيبيـن الممجّـد
يقولون لمّـا ينظـرون بـوجههـم * سـلام عليكـم فـادخلـوها مخلـد
فـلا تـمسكن إلاّ بحبـل ولائـهم * ولا تدحـرن عـن بـاب آل محمّـد
كفـاك بـذكـر الآل فخـراً ونعمـة * « حزينة » قومي واشكري وتهجّدي

و كذلك :

ألا يا نديمي خلّني في غلا صدري * ألم ترَ سيل الدمع من مقلتي يجري
إلى الله أشكو ما أرى مـن أحبتي * لياليّ تمضـي فـي الكآبة بالسهر
يهينوننـي كالقاف حيـن تنزّلـت * وقـد كنتُ كالباء المرفّع في الحفر
أبيت وأمسي بيـن أهلـي غريبة * ودار أبي لي صار كالبدو في القفر
فكم جئتهم حُبّاً لهـم وكـرامـة * وكـم رفضوني في الشدائد والغمر
فكم من بليات أرى مـن جفائهـم * وكم مـن مصيبات يقل لها صبري
فكم من نهـار مـا تفرّغت ساعة * وكـم من ليال ما رقدت إلى الفجر
وإن مدّت الأيـدي إليهـم بحـاجة * يدي دون أيديهم تردّ إلـى نحـري
بلا جهـة مـن غيـر أنّي أحبّهـم * وداد غنـى لا عـن تملقـة الفقـر
وإنـي بحمـد الله ذات استطـاعـة * ولكـن من هجرانهم كسروا ظهري
لـداهيتي سمّيـت نفسـي حـزينة * سمـوم بليّـات أذوق مـدى دهري
تـلامـذتـي إن تسألنـي عبـارة * لكثـرة أشجـاني اُجـيب بـلا أدري

لمتابعة المزيد حول الموضوع في : منتديات عالم احلي بنات 

وكنتُ في غور مـن العلم خائضـة * خوض الحضيض لوجه الدر في البحر
فربـي كفيل فـي الاُمور جميعهـا * عليـه تـوكّلـت وفـوّضته أمـري

و في موضع آخر:

يا ذلة بعد عزّ كنت فيـه مـدى * سنين أعوام دهـري ليت ما مضت
أضحـت دويـراي أيـاماً قلائلة * من بعد ما ضحكت يا طول ما بكت


و كذلك :

يا قرحة ثقبت قلبي وليس لهـا * معـالج يتـداواهــا وملتئم
4- ما قاله شيخنا وسيدنا الإمام عبد الوهاب الشعرانى 
=============================
فى الطبقات الكبرى جزء 1 ص 56
===================
يقول كانت رابعة رضى الله عنها كثيرة البكاء والحزن وكانت إذا سمعت ذكر النار غشى عليها وكانت بعد أن بلغت الثمانين عاما كأنها شن بال تكاد تسقط على الأرض إذا مشت وكان كفنها لم يزل موضوعا أمامها وكان موضع سجودها كهيئة الماء من دموعها وسمعت سفيان الثورى يقول وأحزناه فقالت له واقلة حزنا *
5- السخاوى فى تحفة الأحباب وبغية الطلاب ص 108
=============================
( قد أدعى ) قوم أن السيدة نفيسة ورابعة العدوية كانتا متعاصرتين وليس الأمر كذلك فإن السيدة رابعة العدوية أم الخير ابنة اسماعيل البصرى توفيت سنة خمس وثلاثين ومائة فى خلافة السفاح * وكان مولد السيدة نفيسة فى سنة خمس وأربعين ومائة فكان بين مولد السيدة نفيسة وموت رابعة العدوية ومائة فكان مولد السيدة نفيسة وموت رابعة العدوية عشر سنين فبطل قولمن ادعى ذلك ( واسم ) رابعة كثير غير أن الأعيان منهن ثلاثة * رابعة العدوية المقدم ذكرها * والثانية أبنة إسماعيل الدمشقية * وقد شاركت الأولى فى اسمها واسم أبيها * والثالثة رابعة بنت إبراهيم بن عبد الله البغدادى تسمى رابعة بغداد *** فأما رابعة العدوية *** فإنها قبرها بالبصرة معروف هناك مشهور *** وأما رابعة الدمشقية فإنها توفيت بالقدس الشريف ودفنت على رأس جبل معروف هناك بالطور وإنما عرفت بالقدسية لكونها دفنت هناك وبعض الناس يزعم أنها رابعة العدوية وليس كذلك *** وأما رابعة البغدادية *** فإنها توفيت ببغداد ودفنت بها فى يوم الأحد حادى عشر ذى القعدة سنة ثمانى عشر وخمسمائة والله تعالى أعلم 
6 – ماذا تقول الدكتورة سعاد ماهر فى مساجد مصر
============================
تقول الدكتورة سعاد ماهر فى الجزء 1 ص 115 فى مساجد مصر وأولياؤها الصالحون :شهيدة الهشق الإلهى بمدينة نصر بالقاهرة ** تنتمى رابعة العدوية إلى بنى عدى الذين اشتهر كثير من أفرادها بالورع والتقوى فى مدينة البصرة ولدت رابعة فى عهد الدولة الاموية فى أواخر القرن الأول أو أوائل القرن الثانى الهجرى من أبوين فقيرين بمدينة البصرة ويحدثنا ابن الجوزى عن قصة مولدها فيقول أنت رابعة الى الدنيا ولم يكن فى بيت اهلها شىء لأن أباها كان فقيرا فلم يكن عنده قطرة من سمن حتى يدهنوا موضع خلاصها ولم يكن ثمة نور ولا خرق للف الوليد وكان لرابعة ثلاث أخوات فسميت رابعة لأنها رابعتهن ويستمر ابن الجوزى فى سرد القصة فيقول ( وطلبت أم رابعة من زوجها ان يذهب إلى الجيران لكى يأتى لها بقطرة من الزيت حتى يضىء القنديل ولكنه كان قد عاهد نفسه على ألا يطب من الناس شئيا لأنه لو طلب شيئا ما أعطوه ومع هذا ذهب إلى الجيران وطرق بابهم ثم عاد إلى زوجته وقال أنه لم يفتح له ) إلى هذا الحد والقصة مألوفة * أما باقيها ففيها كثير من الخوارق التى يسميها مؤرخو العصور الوسطى باسم الكرامات ويصفها المحدثون بالأسطورة غير أن أحدا لا ينكر الكرامات لأولياء الله الطاهرين وفى ذلك يقول أكثر الصوفية : أن ظهور الكرامات جائز بل واقع وهى أمور ناقضة للعادة غير مفترنة بدعوى النبوة وهى عون للولى على طاعته ومقوية ليقينه وحاصلة له على حسن إستقامته ودالة على صدق دعواه الولاية إلى أن إدعائها لحاجة وشهدت له الشريعة ) * ولرابعة فى مجال الكرامات شهرة واسعة فيكمل العطار قصة طفولة رابعة فيقول ( وبكت ام رابعة لما هم فيه من فقر وحجود الجيران وفى ذلك الوقت أطرق والد رابعة ونام فرأى النبى صلى الله عليه وسلم فى منامه وقال الرسول : لا عليك لأن هذه البنت التى ولدت وهى سيدة وأن سبعين ألفا من أمتى ليرجون شفاعتها وقال له أذهب غدا إلى أمير البصرة واكتب له ورقة وقل له ( أنك تصلى مائة صلاة وفى ليلة الجمعة أربعمائة ولكن فى يوم الجمعة الأخيرة نسيتنى * فادفع كفارة أربعمائة دينار حلال لهذا الشخص * فلما أفاق والد رابعة من نومه كتب الرسالة وأرسلها عن طريق الحاجب إلى الأمير * فلما رآها الأمير قال : أعطوا ألفى دينار للدراويش وأربعمائة للشيخ وقولوا له أن يأتى لأراه ) 
وكرامات رابعة العدوية كثيرة فمنها أن لصا دخل عليها ليلا فلم يجد فى البيت غير إبريق فلما هم بالخروج قالت له رابعة : يا هذا إن كنت من الشطار فلا تخرج بغير شىء فقال إنى لم أجد شيئا فقالت ( يا مسكين توضأ بهذا الأبريق وادخل فى هذا المخدع فصل ركعتين فإنك ما تخرج إلا بشىء ففعل ما أمرته فلما قام يصلى رفعت رابعة طرفها إلى السماء وقالت ( يا سيدى ويا مولاى هذا قد آتى بابى ولم يجد شيئا عندى وقد أوقفته ببابك فلا تحرمه من فضلك وثوابك * فلما فرغ من صلاة ركعتين له العبادة فلما برح يصلى حتى آخر الليل فلما كان وقت السحر دخلت إليه رابعة فوجدته ساجد فقالت له كيف قضيت ليلتك فقال بخير * وقفت بين يدى مولاى بذلى وافتقارى فقيل عذرى وجبر كسرى وغفر ل ذنبى وبلغنى المطلوب فرفعت رابعة كفها إلى السماء وقالت سيدى ومولاى هذا وقف ببابك وساعة فقبلته وأنا منذ عرفتك بين يديك أتراك تقبلنى ؟ فنوديت فى سرها يا رابعة من اجلك قبلناه وبسببك قربناه . يا لها من عظمة الخالق على المخلوق ويا لها من رحمة نزلت بذلك العبد يا لا من عطف الخالق عندما يتقرب إليه العبد بشبر فيقبل عليه المولى عز وجل بذراع يا الله يا رب العالمين يا أرحم الراحمين يا جار المستجرين يا أمان الخائفين *
وبدات رابعة العدوية بتوبتها صفحة مشرفة من حياتها فابتنت لنفسها خلوة وانتطقعت فيها للعبادة وذاع صيتها فى البصرة وانتشرت ألحانها العلوية فى العراق وسمت بعواطفها إلى الحب الإلهى وابتدعت مذهبا فى التصوف عرف بها وعرفت به واستحقت بحق أن يطلق عليها شهيدة الحب الإلهى فهى التى تقول اللهم أعوذ بك من كل ما يشغلنى عنك ومن كل حائل يحول بينى وبينك * اللهم اجعل الجنة لأحبائك والنار لأعدائك وأما أنا فحسبى أنت وكانت رحمها الله إذا صلت العشاء تتهجد وتقوم الليل كله وهى تقول إلهى نارت النجوم ونامت العيون وغلقت الملوك أبوابها وخلا كل حبيب بحبيبه وهذا مقامى بين يديك ثم تقبل على صلاتها فإذا كان وقت السحر وطلع الفجر قالت إلهى هذا الليل قد أدبر وهذا النهار قد اسفر فليت شعرى أقبلت منى ليلتى فأهنأ أم رددها على فأعزى فوعزتك هذا دأبى ما أحييتنى وعزتك لو طردتنى عن بابك ما برحت عنه لما وقع فى قلبى من محبتك *
وتوفيت رابعة العدوية على الأرجح سنة 180هـ أو سنة 185 ودفنت فى خلوتها بالبصرة أما عن قبرها وهو بشارع سيدى عقبة بن عامر بين ضريحى سيدى محمد بن الحنفية وسيدى ذى النون المصرى فلعله من أضرحة الرؤيا وفى ذبك يقول الشيخ مصطفى عبد الرازق * وأنا لا نعرف أ رابعة العدوية زارت مصر وان ابتدعت لها الأساطير قبرا بقرافة الإمام يزار ويتبرك به العامة 
هذا وقد رأت وزارة الأوقاف أن تخلد ذكراها فأنشأت مدينة كاملة ومسجدا عظيما بأسمها ويتكون من صحن مربع ومكتبة ودار للمناسبات وهو فى مواجهة مدين نصر وسمى الحى بأسمها
هي رابعه بنت إسماعيل العدويه نسبه إلى بني عدوه ولدت عام 95هـ في القرن الثاني للهجرة في البصرة..حيث كانت البصره تعج بالعلماء والفقهاء والزهاد وتمتلئ بقصور الأغنياء وأكواخ الفقراء و في أحد تلك الأكواخ الفقيره ولدت رابع * قيل أنها سميت رابعه لأنه سبقتها ثلاث أخوات فأطلق عليها والدها اسم رابعه ..عرفت بشدة الذكاء وسرعة التلقي حتى حفظت القرآن من في سن صغير .
رؤيا والدها : 
عندما ولدت لم يكن في المصباح الذي يضئ البيت زيتا إلا ضوءا شاحبا ..ولم تجد الأم ما تستر به الطفلة الصغيرة ..
خرج والدها يلتمس ما يستعيره من الجيران فلم يجد شيئا ونام حزينا فرأى في المنام رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول له :
لا عليك إن هذه البنت التي ولدت سيده جليلة القدر، وإن سبعين من أمتي ليرجون شفاعتها .
محنة فيها منحه: 
اشتد القحط في البصرة فوقعت رابعه فريسه للرق بعد أن تفرقت أسرتها ..كانت رابعه بارعه الجمال تجيد العزف على الناي فاستغل ذلك سيدها وجعلها تغني لزواره مما سبب لها ألما كبيرا ..
مكثت رابعه تتعذب مع سيدها ويروى إنها بينما كانت تجوب أزقة البصرة شكت إلى الله حزنها فسمعت هاتفا يقول لها:
لا تحزني ففي يوم الحساب يتطلع المقربون إليك يحسدونك على ما تكونين فيه، أحست رابعه بقرب الله 
وأيقنت بأن الفرج قريب، وحبب إليها الوقوف بين يدي الله في جنح الظلام متضرعه وكلما توجهت إلى ربها كلما أشرقت الأنوار في قلبها ..
وفي ذات ليله شاهدها سيدها من ثقب صغير وهي ساجده تناجي ربها قائله: إلاهي أنت تعلم أن قلبي يتمنى طاعتك ونور عيني في خدمة عتبتك ولو كان الأمر بيدي ما انقطعت عن مناجاتك وخدمتك ولكنك
تركتني تحت رحمة هذا المخلوق من عبادك ..وذهل الرجل وهو يرى قنديلا معلقا في وسط الحجرة يضئ لها الظلام ..استيقظ ضميره وأطلق سراحها وخيّرها بين أن تعيش عنده مكرمة تتقلب في ألوان النعيم ويكون لها خادما أو تنطلق إلى حيث تريد، فاختارت أن تعيش حره بعيده عن دنيا الناس .
بعيده عن الناس: 
آثرت رابعه أن تعيش في كوخ بعيد عن الناس وكان لمعرفتها بالزاهد رباح بن عمر القيسي أثر كبير في حياتها فقد تعرفت من خلاله على أماكن الذكر ومجالس العلماء فاستمتعت إلى مواعظ شيخ البصره
آن ذاك ( عبدالواحد بن زيد ) وتعرفت إلى الزاهده العابده ( حيونه ) فكان لهذا التعايش والتأثر بأهل الله من صلحاء زمانها أثر كبير في صقل روحها وتوجهها بكليتها إلى الله عز وجل .
من عبادتها: 
كانت تصلي الليل كله فإذا طلع الفجر نامت في مصلاها نومه خفيفه حتى يسفر الفجر .. فإذا هبت إلى مرقدها قالت: يا نفس كم تنامين يوشك أن تنامي نومه لا تقومين منها إلا لصرخة يوم النشور، وكان هذا دأبها حتى لقيت ربها .. عاشت رابعه بمشاعر فياضه فقد كانت كثيرة الحزن والبكاء ما أن تسمع بذكر النار حتى يغشى عليها زمانا ..وكان في موضع سجودها ماء من كثرة دموعها .
من عظاتها: 
قال رجل لها: 
سليني حاجتك ؟
فقالت لــه:
إني لأستحي أن أسأل الدنيا ممن يملكها فكيف أسألها من لا يملكها !
ومن كلامها في الرياء: 
اكتموا حسناتكم كما تكتموا سيئاتكم .
قال رجل لرابعه: 
إنني أكثر من الذنوب فهل يتوب علي إن تبت ؟
قــــــالت :
لا، بل لو تاب عليك لتبت .
( ثـم تـاب عليهـم ليتوبـوا إن الله هـو التـواب الرحيـم )
ويروى أن أحد الصالحين قال عندها:
اللهم ارضى عني .
فقالت له : 
إما تستحي أن تطلب رضا من لست عن براضي .( رضي الله عنهم ورضوا عنه).
من أشعارها: 
تعصـي الإلـه وأنـت تظهـر حبــه
هـذا لعمـري فـي القيـاس شنيــع
لـو كـان حبـك صادقـا لأطعتــــــه
إن المحـب لمـن يحـب مطيــــــع
يروى أن سفيان الثوري قال لها يوما:
لكل عقد شرطا ولكل إيمان حقيقه فما حقيقة إيمانك؟
قالـت:
ما عبدته خوفا من ناره ولا حبا لجنته فأكون كالأجير السوء إن خاف عمل، بل عبدته حبه له وشوقا إليه .
غابت رابعه في جلال الله وجماله وتنزهت روحها في حضائر قدسه وهذه كلماتها تنبض وجدا وهياما
إني جعلتك في الفؤاد محدثــي وأبحت جسمي من أراد جلوسي
فالجسم مني للجليس مؤانــس وحبيب قلبي في الفؤاد أنيــس
شوقها إلى لقاء الله: 
كانت رابعه تشتاق إلى لحظة الانتقال من هذه الحياة لأنها ستلقى بعدها من يملأ قلبها وروحها، وقد عاشت
حتى الثمانين من عمرها تضع أكفانها أمام ناظريها فوق مشجب من قصب فارسي حتى لا يغيب عن بالها أبدا ذكر الموت.
تذكر خادمتها ( عبده بنت أبي شوال ) إنها عندما حضرتها الوفاه قالت لها:
يا عبده لا تؤذي أحد بموتي ولفيني في جبتي هذه ( جبه من شعر كانت تقوم فيها إذا هدأت العيون ) وقالت في لحظاتها الأخيرة لمن حولها 
اخرجوا ودعو الطريق مفتوحه لرسل الله، فخرجوا وأوصدوا الباب فسمعوا صوتها وهي تنطق بالشهادة، فأجائها صوت مسموع
( يا أيتها النفس المطمئنة إرجعي إلى ربك راضية مرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي ) .
بشارات فيها إشارات: 
تقول عبده:
رأيت رابعه بعد وفاتها بسنة عليها حله من استبرق خضراء وخمار من سندس أخضر ولم أر شيئا أحسن منه وقالت لها: 
يارابعه ما فعلت بالجبه التي كفناك فيها والخمار الصوف ؟ 
قالت : 
إن نزع عني وأبدلت به هذا ثوباً آخر، وطويت أكفاني وختم عليها ..
ورفعت في عليين . 
فقلت لها:
لهذا كنت تعملين أيام الدنيا ؟
قالت: 
وما هذا عندما رأيت من كرامه الله لأوليائه، فقلت مريني بأمر اتقرب به إلى ا لله ؟
قالت : 
عليك بكثرة ذكره فيوشك أن تغبطي بذلك في قبرك ..
والله أعلم 
رابعة وكأس المحبه: 
رحم الله رابعه التي أحبت الله بكل ذرة في كيانها وسكنت لمراده راضية مطمئنه ..
تنتفظ روحها بين يديه مستغرقة في جلاله مأخودة بجماله ..
لقد عرفت الطريق إلى السعادة الحقيقية
وشربت من أصفا كؤوس أهل التصوف ..
أهل الأشواق والأذواق، أهل الإحسان وأهل حقيقه الإيمان، وتركت بصماتها واضحه في فكرهم وشعرهم، وفتحت
للمحبين آفاق واسعة يطلون منها على أسرار لا تترجمها الكلمات بل يشعر بها كل من سجد قلبه لله .-
رحم الله رابعه ورضي عنها وجمعنا بها مع إمام المحبين وساقي كؤوس المحبة لأهل الصدق نبينا محمد صلى
الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم .
رابعة العدوية (717م – 801م) وتكنى بأم الخـير، عابدة ومتصوفة تاريخية وأحد الشخصيات المشهورة في عالم التصوف الإسلامي، وتعتبر مؤسسة أحد مذاهب التصوف الإسلامي وهو مذهب العشق الألهي.
أصلها ونشأتها
هي رابعة بنت إسماعيل العدوي، ولدت في مدينة البصرة، ويرجح مولدها حوالي عام (100هـ – 717م)، وكانت لأب عابد فقير، وكانت الأبنة الرابعة لوالدها ولهذا يرجع اسمها رابعة.
وقد توفي والدها وهي طفلة دون العاشرة ولم تلبث الأم أن لحقت به، لتجد رابعة واخواتها أنفسهن بلا عائل يُعينهن علي الفقر والجوع والهزال، فذاقت رابعة مرارة اليتم الكامل دون أن يترك والداها من أسباب العيش لها سوى قارب ينقل الناس بدراهم معدودة في أحد أنهار البصرة كما ذكر المؤرخ الصوفي فريد الدين عطار في (تذكرة الأولياء).
كانت رابعة تخرج لتعمل مكان أبيها ثم تعود بعد عناء تهون عن نفسها بالغناء وبذلك أطلق الشقاء عليها وحرمت من الحنان والعطف الأبوي، وبعد وفاة والديها غادرت رابعة مع أخواتها البيت بعد أن دب البصرة جفاف وقحط أو وباء وصل إلى حد المجاعة ثم فرق الزمن بينها وبين أخواتها، وبذلك أصبحت رابعة وحيدة مشردة، وأدت المجاعة إلى انتشار اللصوص وقُطَّاع الطرق، وقد خطف رابعة أحد اللصوص وباعها بستة دراهم لأحد التجار القساة من آل عتيك البصرية، وأذاقها التاجر سوء العذاب، ولم تتفق آراء الباحثين على تحديد هوية رابعة فالبعض يرون أن آل عتيق هم بني عدوة ولذا تسمى العدوية.
وفاتها
توفيت رابعة وهي في الثمانين من عمرها سنة 180 هـ [2]. تقول دائرة المعارف الإسلامية في الجزء11 من المجلد التاسع: ” رابعة تختلف عن متقدمي الصوفية الذين كانوا مجرد زهاد ونساك، ذلك أنها كانت صوفية بحق، يدفعها حب قوي دفاق، كما كانت في طليعة الصوفية الذين قالوا بالحب الخالص، الحب الذي لا تقيده رغبة سوى حب الله وحده
7 – سير أعلام النبلاء/رابعة العدوية
رابعة العدوية
رابعة العدوية البصرية الزاهدة العابدة الخاشعة أم عمرو رابعة بنت إسماعيل ولاؤها للعتكيين ولها سيرة في جزء لابن الجوزي
قال خالد بن خداش سمعت رابعة صالحا المري يذكر الدنيا في قصصه فنادته يا صالح من أحب شيئا أكثر من ذكره وقال محمد بن الحسين البرجلاني حدثنا بشر بن صالح العتكي قال اساذن ناس على رابعة ومعهم سفيان الثوري فتذكروا عندها ساعة وذكروا شيئا من الدنيا فلما قاموا قالت لخادمتها إذا جاء هذا الشيخ وأصحابه فلا تأذني لهم فأني رأيتهم يحبون الدنيا وعن أبي يسار مسمع قال أتيت رابعة فقالت جئتني وأنا أطبخ ارزا فآثرت حديثك على طبيخ الأرز فرجعت إلى القدر وقد طبخت ابن أبي الدنيا حدثنا محمد بن الحسين حدثني عبيس بن ميمون العطار حدثتني عبده بن أبي شوال وكان تخدم رابعة العدوية قالت كانت رابعة تصلي الليل كله فإذا طلع الفجر هجعت هجعة حتى يسفر الفجر فكنت اسمعها تقول يا نفس كم تنامين والى كم تقومين يوشك أن تنامي نومة لا تقومين منها إلا ليوم النشور قال جعفر بن سليمان دخلت مع الثوري على رابعة فقال سفيان واحزناه فقالت لا تكذب قل واقله حزناه وعن حماد قال دخلت أنا وسلام بن أبي مطيع على رابعة فأخذ سلام في ذكر الدنيا فقالت إنما يذكر شيء هو شيء أما شيء ليس بشيء فلا شيبان بن فروخ حدثنا رياح القيسي قال كنت اختلفت إلى شميط أنا ورابعة فقالت مرة تعال يا غلام وأخذت بيدي ودعت الله فإذا جرة خضراء مملوءة عسلا أبيض فقالت كل فهذا والله لم تحوه بطون النحل ففرغت من ذلك وقمنا وتركناه قال أبو سعيد بن الأعرابي أما رابعة فقد حمل الناس عنها حكمة كثيرة وحكى عنها سفيان وشعبة وغيرهما ما يدل على بطلان ما قيل عنها وقد تمثلته به

Minggu

Membaca tanda-tanda kematian

Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini, cepat atau lambat pasti akan mengalami suatu proses berpisahnya ruh dengan jasad. Dalam bahasa agama, proses tersebut dinamakan proses kematian. Sedangkan dalam bahasa kaum sufi, proses terbut diistilahkan dengan nama “kebangkitan ruh dari jasad”. Mayoritas umat Islam di Indonesia sering menamakan peristiwa kematian tersebut dengan istilah “meninggal dunia”, dimana seorang yang meninggal dunia akan meninggalkan segala apa yang dimilikinya, baik istrinya, suaminya, anaknya, orang tuanya, kekasihnya, pekerjaannya, jabatannya, hartanya, maupun keinginan dan cita-citanya serta rencana-rencananya dimasa depan. Dalam ajaran Islam, proses terjadinya kematian ini juga dikategorikan sebagai kiyamat kecil atau Qiyamat Sugro.

Kapan terjadinya dan bagaimana terjadinya proses kematian tersebut, hanya Allah-lah yang mengetahui rahasianya, sesuai dengan firman-Nya dalam Al Qur’an :

Manusia bertanya kepadamu kapan terjadinya hari Kebangkitan (ruh dari jasad), katakanlah :


Sesungguhnya pengetahuan tentang hari Kebangkitan (ruh dari jasad) itu hanya disisi Allah. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya”. (QS Al Ahzab 33 : 63)


Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(QS Luqman 31 : 34)
1


Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS An Nahl 16 : 70)

Berdasarkan ayat tersebut sangat terlihat jelas bahwa pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kebangkitan ruh dari jasad seseorang (Qiyamat Sugro) hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Oleh sebab itu sebagai seorang muslim diwajibkan untuk mempersiapkan diri baik lahir maupun batin untuk menghadapi dan menyikapi proses kematian tersebut dengan arif dan bijaksana, bahkan Allah telah menganjurkan agar kita selalu berdoa supaya mendapatkan mati yang baik (husnul khotimah) :


Dan katakanlah : “Ya, Tuhanku, masukkanlah (ruhku ke dalam jasadku) secara benar, dan keluarkanlah aku (ruhku dari jasadku) secara benar dan berikanlah kapadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong”. (QS Al Isra’ 17 : 80)

Dalam Al Qur’an, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman (yang sudah ma’rifatullah) akan diberitahukan tanda-tanda datangnya kematian yang akan menimpa dirinya bahkan tanda-tanda kematian itu sebenarnya dapat juga dibaca oleh saudara-saudara seimannya.


Diwajibkan atas kamu apabila seorang diantara kamu kedatangan (melihat atau membaca) tanda-tanda kematian maka berwasiatlah kepada bapak, ibu dan saudara-saudara dekatnya, jika ia meninggalkan harta atau peninggalan yang banyak. Ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al Baqarah 180)2

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma'ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Baqarah 2 : 240)

Dalam sebuah hadits, juga telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw telah mengetahui tanda-tanda kematian yang akan menimpa diri beliau sehingga beliau berwasiat kepada umat Islam tetapi sayangnya wasiat tersebut gagal untuk dicatat oleh sahabat.

Dari Abi Sa’id Al Khudri , katanya: “ Rasulullah Saw, berkhutbah : “ Sesungguhnya Allah Swt menyuruh pilih kepada hamba-Nya antara dunia dan akhirat. Maka dipilihnya akhirat. Lalu Abu Bakar menangis. Aku berkata pada diriku sendiri, “Kenapa orang tua ini menangis , jika Allah Swt menyuruh pilih kepada salah seorang hamba-Nya antara dunia dan akhirat, lalu dipilih akhirat. Padahal yang dimaksud dengan hamba Allah itu adalah Rasulullah Saw sendiri. Sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih tahu di antara kami. Sabda Rasulullah Saw : “Hai, Abu Bakar! Jangan menangis! Sesungguhnya orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Andai aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi persaudaran dan kecintaan dalam Islam cukup memadai. Tidak satupun pintu didalam masjid yang terbuka, melainkan semuanya tertutup, kecuali pintu Abu Bakar”. (HR Bukhari)

Ibnu Abbas berkata : “Ketika nabi bertambah keras sakitnya, beliau berkata : Bawalah kemari kertas supaya kamu dapat menuliskan sesuatu agar kamu tidak lupa nanti”. Kata Umar bin Khathab : “Sakit Nabi bertambah keras. Kita telah mempunyai Kitabullah, cukuplah itu!”. Para sahabat yang hadir ketika itu berselisih pendapat dan menyebabkan terjadinya suara gaduh. Berkata Nabi : “Saya harap anda semua pergi! Tidak pantas anda bertengkar di dekatku”. Ibnu Abbas lalu keluar dan berkata : Alangkah malangnya, terhalang mencatat sesuatu dari Rasulullah”. (HR Bukhari)3


Dari hadits tersebut, terlihat bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw wafat, beliau sudah dibertahu oleh Allah kapan beliau akan meninggalkan dunia, bahkan beliau masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memilih apakah tetap hidup didunia atau kembali kepada Allah, dan beliau memilih untuk kembali kepada Allah dengan meninggalkan dunia dengan segala isinya. Kemudian beliau juga hendak membacakan wasiatnya kepada umat Islam yang akan ditinggalkannya, akan tetapi pembacaan wasiat beliau tersebut tidak jadi dilaksanakan. Padahal isi wasiat tersebut sangat penting sekali, yang berkaitan dengan masalah suksesi kepemimpinan jika beliau meninggal dunia. Akibat dari gagalnya pembacaan wasiat tersebut akhirnya umat Islam terpecah belah dalam memperebutkan jabatan Khalifah sehingga menyebabkan tiga Khalifah terbunuh dalam perebutan jabatan tersebut. Hal ini sudah diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw :

Syaqiq bercerita, katanya : “Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar. Dia berkata : “Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah Saw tentang fitnah ?”. Jawabku : “Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan”. Kata Umar : “Anda tidak sangsi? Betulkah itu?”. Jawabku : “Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa sedekah dan oleh amar ma’ruf serta nahi mungkar”. Kata Umar : “Bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut”. Jawab Hudzaifah : “Ya, Amirul Mu’mini ! Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat”. Kata Umar : “Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?”. Jawab Hudzaifah : “Akan pecah”. Kata Umar : “Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya”. Kami (Syaqiq dkk) bertanya kepada Hudzaifah : “Apakah Umar tahu pintu itu?”. Jawab Hudzaifah : “Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanyta hadits yang tidak mengandung kesalahan”. Kata Syaqiq : Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya. Jawab Hudzaifah : “Pintu itu adalah Umar sendiri”. (HR Bukhari)

Disinilah pentingnya sebuah wasiat yang harus diwasiatkan oleh orang yang telah melihat datangnya tanda-tanda kematian dirinya, kepada keluarga yang akan ditinggalkannya. Terbacanya tanda-tanda kematian tergantung dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt, maka semakin jelas tanda-tanda kematian itu terbaca olehnya. Tetapi sebaliknya, semakin rendah tingkat keimanan seseorang kepada Allah Swt maka semakin tidak jelas bahkan bisa jadi tidak terbaca tanda-tanda kematian yang akan datang kepadanya. Oleh sebab itu kita sebagai orang yang telah beriman diwajibkan untuk memlihara tingkat keimanan kita, agar terus berevolusi mencapai tingkat yang tak terbatas, dengan cara :4

1. Membaca ayat-ayat ketuhanan, baik dalam Al Qur’an dan Hadits maupun yang terdapat dalam buku-buku agama.
2. Berdiskusi dengan saudara-saudara seiman, baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
3. Banyak berkunjung ke Baitullah untuk bertemu dengan Allah.

Apabila tiga cara tersebut dilaksanakan dengan baik Insya Allah tanda-tanda datangnya kematian pada diri kita, dapat dibaca atau dilihat dengan jelas satu tahun sebelum kita meninggal dunia. Bahkan proses kematian yang akan dialami oleh seorang yang sudah ma’rifatullah dapat ditangguhkan atau ditunda beberapa tahun tergantung dari keinginan orang tersebut yang tentunya hal tersebut terkait dengan ijin Allah Swt, kekuatan jasad dan kesucian ruhani serta bantuan doa dari saudara-saudara seimannya.

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan ijin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya. Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan dunia niscaya Kami berikan kepadanya. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan Akhirat, niscaya Kami berikan kepadanya. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS Ali Imran 3 : 145)

Allah memang tidak menjelaskan secara terperinci tentang tanda-tanda datangnya proses kematian serta bagaimana rasa dan pengalaman disaat datangnya kematian. Tetapi para ahli ma’rifatullah telah menyusun berbagai buku dan keterangan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dan penyusunan buku-buku dan keterangan tentang tanda-tanda kematian dan pengalaman mati, tentunya berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw serta renungan Ilham dan petunjuk dari Allah Swt.

Kyai Ageng Usman Efendi Nitiprayitna DW, adalah pewaris ilmu Tasawuf generasi ke sembilan dari Sunan Kudus. Beliau adalah salah satu Ulama Tasawuf yang berhasil menyusun tanda-tanda kematian yang bisa diketahui satu tahun sebelum seseorang meninggal dunia.

Berikut tanda-tanda kematian yang dapat dikenali satu tahun sebelum berpisahnya Roh dan Jasad (Qiamat Sugro) :

1. 12 Bulan sebelum kematian menjemput, akan mendengar suara-suara aneh yang belum pernah didengar dan suara tersebut lain dengan suara yang ada didunia.

2. 9 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sinar matahari bersinar hitam.5
3. 6 Bulan sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat air berwarna merah (kemerah-merahan). Sedangkan apai tampaknya berwarna hitam.

4. 100 Hari sebelum kematian menjemput, sekonyong-konyong di depan mata tampak seperti terbentang laut yang luas, dimana seolah-olah ada sesuatu yang berwarna putih terlentang, sehingga kelihatan mayat dipocong-pocong dan dibungkus.

5. 80 Hari sebelum kematian menjemput, apabial menopang tangan di atas kening sendiri lengan tangan dihadapana, ia tidak akan melihat lengan tangannya.

6. 70 Hari sebelum kematian menjemput, tidak dapat menggerakkan jari manisnya dengan leluasa sebagaimana mestinya.

7. 60 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba akan melihat bahwa matahari tampaknya seolah-olah kaca cermin yang didalamnya terdapat bayangan diri pribadi sendiri berupa wajahnya sendiri.

8. 50 Hari sebelum kematian menjemput, tiba-tiba melihat sejenis cahaya luar biasa indah gemilang, tetapi sekejap menghilang.

9. 40 Hari sebelum kematian menjemput, kuping akan berdengung terus menerus.

10. 30 Hari sebelum kematian menjemput, perasaan kadang-kadang kosong dan hampir tidak ingat apa-apa.

11. 20 Hari sebelum kematian menjemput, dimata seperti ada yang bergerak terus menerus.

12. 7 Hari sebelum kematian menjemput, langit-langit mulut apabila dijilat dengan ujung lidah tidak terasa geli.

13. 3 Hari sebelum kematian menjemput, mendengar suara gaduh dan kadang-kadang mendengar suara tangis bayi yang baru lahir.

14. 24 Jam sebelum kematian menjemput, nafas yang keluar dari hidung terasa sangat dingin, sedang lidah terasa panas. Hidung menjadi kuncup. Denyut yang ada pada kedua kaki semakin hilang dan denyut bagian dada bergetar hebat.

15. 3 Jam sebelum kematian menjemput, jalan nafas mulai berkurang, karena sebagian nafasnya mulai berkumpul dengan suatu angan-angan untuk dibawa pulang oleh Nur Muhammad ke hadirat Ilahi Rabbi.6
Imam Ghazali rahimahullah diriwayatkan memperoleh tanda-tanda ini sehingga beliau menyiapkan dirinya untuk menghadapi datangnya kematian. Beliau menyiapkan dirinya dengan mandi dan berwuduk serta mengkafani tubuhnya, kecuali bagian kepalanya. Kemudian Imam Ghozali meminta kakaknya yaitu Imam Ahmad Ibnu Hambal untuk meneruskan mengkafani kepala beliau. Beliau wafat ketika Imam Ahmad bersedia untuk mengkafani bahagian mukanya.



Wahai Jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu

dengan ridho dan diridhoi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam Nurul Jannah-Ku

(QS Al Fajr 89 : 27-30)