Tafsir Ibnu Katsir dan Adzkar Imam Nawawi : Kisah Tawassul Dengan Nabi Muhammad (Sesudah Wafatnya Nabi)
Kisah Tawassul Utby Rah. (Guru Imam Syafii) dalam kitab Tafsir
Ibnu katsir (Lihat di Surat ke 4 ayat 64) dan Al adzkar Imam Nawawi
(Lihat di Bab ziarah kemakam Nabi) yang diingkari oleh golongan
mujasimmah Wahhaby/salafi/salafy palsu. Bahkan puncak dari kedustaan
wahhaby adalah membuang kisah Uthby pada kitab al adzkar Nawawi cetakan
penerbit wahhaby saudi arabia.
BANTAHAN TERHADAP SITUS WAHHABY PENENTANG AHLUSSUNNAH (BAGIAN KE-IV, V, VI) : Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul
Risalah ini terdiri dari :
-
Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul
- Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.
-
Tawassul kepada Rasulallah saw. sesudah wafatnya:
-
Allah menjadikan Penolong-penolong bagi Orang Beriman
-
Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul
-
Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya
-
Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya
Kesesatan Paham yang Menafikan Tawassul
Bertawassul dengan para Nabi dan orang-orang shalih (Wali Allah) baik
ketika mereka sudah hidup maupun setelah wafatnya adalah amalan ummat
muslim diseluruh dunia. Berikut ini kami ketengahkan dalil-dalil shahih
yang dijadikan rujukan pada amalan sunnah ini. Sedangkan nash atau dalil
yang melarang tawassul dengan Nabi atau Wali Allah semasa hidup atau
wafatnya.
A. Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul
1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:
“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
2. Dalam surat Al-Maidah ayat 35:
‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….”
Keterangan :
Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul
Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an
Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian
bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lain mengatakan:
“Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada
Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad
Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunan agamanya. Tawassul dengan
beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiap orang,
lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat,
baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap
muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah
suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh
keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain
kecuali tawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab,
beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia.
Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan
diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi
berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang
menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah
penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling
mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt.
berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah
swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat, namun dalam
firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw.
lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada
hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan
taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai
tawassul.
Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab
atas pertanyaan: Apakah tawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan
atau tidak? Ia menjawab: “Alhamdulillah mengenai tawassul dengan
mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. dan lain sebagainya
adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana
yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian
itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin
sepen- dapat.”
3. Dalam Surat Al-Baqarah :37, mengenai Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.:
فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ اَنَّهُ هُوَا الـَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka
Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi
Maha Penyayang ”.
Keterangan :
Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.. Sebagaimana disebutkan
pada firman Allah swt. (Al-Baqarah :37) diatas. Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab:
Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63,
hadits ke 89; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97
dan 239 pada cet.Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet.
Al-Haidariyah; Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi
(catatan pinggir) Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419;
Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1 halaman 60;
Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq,
At-Tastari jilid 3 halaman 76. Begitu juga pendapat
Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37
dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul
pada Rasulallah saw.
Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar
taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad
saw., yang mana beliau
belum dilahirkan di alam wujud ini.
Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as.
ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang
berkaitan dengan masalah itu:
Al-Hakim dalam kitabnya
Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari
Umar Ibnul Khattab ra.
(diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id ‘Amr bin Muhammad bin
Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly,
Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah,
Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah
saw.bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ الله.صَ. : لَمَّا اقْتَرَفَ آدَمَُ الخَطِيْئَةَ قَالَ: يَا رَبِّ أسْأَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ لِمَا غَفَرْتَ لِي,
فَقالَ اللهُ يَا آدَمُ, وَكَيْفَ عَرَفْتَ مُحَمَّدًا وَلَمْ أخْلَقُهُ ؟ قَالَ: يَا رَبِّ ِلأنَّـكَ لَمَّا خَلَقْتَنِي بِيدِكَ
وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوْحِكَ رَفَعْتُ رَأسِي فَرَأيـْتُ عَلَى القَوَائِمِ العَرْشِ مَكْتُـوْبًا:لإاِلَهِ إلاالله
مُحَمَّدَُ رَسُـولُ اللهِ, فَعَلِمْتُ أنَّكَ لَمْ تُضِفْ إلَى إسْمِكَ إلا أحَبَّ الخَلْقِ إلَيْكَ, فَقَالَ اللهُ
صَدَقْتَ يَا آدَمُ إنَّهُ َلاَحَبَّ الخَلْقِ إلَيَّ اُدْعُنِي
بِحَقِّهِ فَقـَدْ غَفَرْتُ لَكَ, وَلَوْ لاَمُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُكَ.
“Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: ‘Ya
Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu’. Allah bertanya
(sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia
bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa
mendengar jawaban Nabi Adam as.): ‘Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!’ Adam
menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh
kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang ‘Arsy
termaktub tulisan
Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai’.
Allah menegaskan
: ‘Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo’alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya)
, engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan’ “.
Hadits diatas diriwayatkan oleh
Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam
Khasha’ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam
Dala ’ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam
Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam
Syifa’us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam
Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam
Majma’uz Zawa’id jilid V111/253.
Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal
dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan
yaitu dengan tambahan:
وَلَوْلآ مُحَمَّدٌ مَا خَلَقْتُ آدَمَ وَلآ الجَنَّةَ وَلآ النَّـارَ
‘Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka’.
Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada
yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang
meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu’, seperti
Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha’if dan
ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua
ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu. Akan tetapi Ibnu Taimiyah
sendiri untuk persoalan hadits tersebut beliau menyebutkan dua hadits
lagi yang olehnya dijadikan dalil. Yang pertama yaitu diriwayatkan oleh
Abul Faraj Ibnul Jauzi dengan sanad Maisarah yang mengatakan sebagai
berikut :
قُلْتُ يَا رَسُوْلُ اللهِ, مَتَى كُنْتَ نَبِيَّا ؟ قَالَ: لَمَّا
خَلَقَ اللهُ الأرْضَ وَاسْتَوَى إلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ
سَما وَا تٍ,
وَ خَلَقَ العَرْشَ كَتـَبَ عَلَى سَـاقِ العَـرْشِ مُحَمَّتدٌ رَسُوْلُ
اللهِ خَاتَمُ الأَنْبِـيَاءِ , وَ خَلَقَ اللهُ الجَنَّـةَ الَّتِي
أسْكَـنَهَا
آدَمَ وَ حَوَّاءَ فَكـُتِبَ إسْمِي عَلَى الأبْـوَابِ وَالأوْرَاقِ
وَالقـِبَابِ وَ الخِيَامِ وَ آدَمُ بَيْـنَ الرَُوْحِ وَ
الجَسَدِ,فَلَـمَّا أحْيَاهُ اللهُ
تَعَالَى نَظَرَ إلَى العَـرْشِ , فَرَأى إسْمِي فَأخْبَرَهُ الله
أنَّهُ سَيِّدُ وَلَدِكَ, فَلَمَّا غَرَّهُمَا الشَّيْطَانُ تَابَا
وَاسْتَشْفَعَا بِإسْمِي عَلَيْهِ
“Aku pernah bertanya pada Rasulallah saw.: ‘Ya Rasulallah kapankah
anda mulai menjadi Nabi?’ Beliau menjawab: ‘Setelah Allah menciptakan
tujuh petala langit, kemudian menciptakan ‘Arsy yang tiangnya termaktub
Muham- mad Rasulallah khatamul anbiya (Muhammad pesuruh Allah terakhir
para Nabi), Allah lalu menciptakan surga tempat kediaman Adam dan Hawa,
kemudian menuliskan namaku pada pintu-pintunya, dedaunannya,
kubah-kubahnya dan khemah-khemahnya. Ketika itu Adam masih dalam keadaan
antara ruh dan jasad. Setelah Allah swt .menghidupkannya, ia memandang
ke ‘Arsy dan melihat namaku. Allah kemudian memberitahu padanya bahwa
dia (yang bernama Muhammad itu) anak keturunanmu yang termulia. Setelah
keduanya (Adam dan Hawa) terkena bujukan setan mereka ber- taubat kepada
Allah dengan minta syafa’at pada namaku’ ”.
Sedangkan hadits yang kedua berasal dari Umar Ibnul Khattab
(diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Nu’aim Al-Hafidz dalam Dala’ilun
Nubuwwah oleh Syaikh Abul Faraj, oleh Sulaiman bin Ahmad, oleh Ahmad
bin Rasyid, oleh Ahmad bin Said Al-Fihri, oleh Abdullah bin Ismail
Al-Madani, oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ayahnya) yang
mengatakan bahwa Nabi saw. berrsabda:
لَمَّا أصَابَ آدَمَ الخَطِيْئَةُ, رَفَعَ رَأسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ
بَحَقِّ مُحَمَّدٍ إلاَّ غَفَرْتَ لِي, فَأوْحَى إلَيْهِ, وَمَا مُحَمَّدٌ ؟
وَمَنْ مُحَمَّدٌ ؟ فَقَالَ: : يَا رَبِّ إنَّكَ لَمَّا أتْمَمْتَ
خَلْقِي وَرَفَعْتُ رَأسِي إلَى عَرْشِكَ فَإذَا عَلَيْهِ مَكْتُوْبٌ
لإلَهِ إلااللهُ مُحَمَّدٌ رَسُـولُ اللهِ فَعَلِمْتُ أنَّهُ أكْرَمُ
خَلْقِـكَ عَلَيْكَ إذْ قَرََرَنْتَ إسْمُهُ مَعَ اسْمِكَ فَقَالَ, نَعَمْ,
قَدْ غَفَرْتُ لَكَ ,
وَهُوَ آخِرُ الأنْبِيَاءِمِنْ ذُرِّيَّتِكَ, وَلَوْلاَهُ مَا خَلَقْتُكَ
“Setelah Adam berbuat kesalahan ia mengangkat kepalanya seraya
berdo’a: ‘Ya Tuhanku, demi hak/kebenaran Muhammad niscaya Engkau
berkenan mengampuni kesalahanku’. Allah mewahyukan padanya: ‘Apakah
Muhamad itu dan siapakah dia?’ Adam menjawab: ‘Ya Tuhanku, setelah
Engkau menyempurnakan penciptaanku, kuangkat kepalaku melihat ke ‘Arsy,
tiba-tiba kulihat pada “Arsy-Mu termaktub Laa ilaaha illallah Muhammad
Rasulallah. Sejak itu aku mengetahui bahwa ia adalah makhluk termulia
dalam pandangan-Mu, karena Engkau menempatkan namanya disamping
nama-Mu’. Allah menjawab: ‘Ya benar, engkau Aku ampuni,. ia adalah
penutup para Nabi dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, engkau tidak
Aku ciptakan’ ”.
Yang lebih heran lagi dua hadits terakhir ini walaupun diriwayatkan
dan di benarkan oleh Ibnu Taimiyyah, tapi beliau ini belum yakin bahwa
hadits-hadits tersebut benar-benar pernah diucapkan oleh Rasulallah
saw.. Namun Ibnu Taimiyyah toh membenarkan makna hadits ini dan
menggunakannya untuk menafsirkan sanggahan terhadap sementara golongan
yang meng- anggap makna hadits tersebut bathil/salah atau bertentangan
dengan prinsip tauhid dan anggapan-anggapan lain yang tidak pada
tempatnya.
Ibnu Taimiy yah dalam Al-Fatawi jilid XI /96 berkata sebagai berikut:
“Muhammad Rasulallah saw. adalah anak Adam yang terkemuka, manusia
yang paling afdhal (utama) dan paling mulia. Karena itulah ada orang
yang mengatakan, bahwa karena beliaulah Allah menciptakan alam semesta,
dan ada pula yang mengatakan, kalau bukan karena Muhammad saw. Allah
swt. tidak menciptakan ‘Arsy, tidak Kursiy (kekuasaan Allah), tidak
menciptakan langit, bumi, matahari dan bulan.
Akan tetapi
semuanya itu bukan ucapan Rasulallah saw, bukan hadits shohih dan bukan
hadits dho’if, tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya sebagai ucapan
(hadits) Nabi saw. dan tidak dikenal berasal dari sahabat Nabi. Hadits
tersebut merupakan pembicaraan yang tidak diketahui siapa yang
mengucapkannya. Sekalipun demikian makna hadits tersebut tepat benar
dipergunakan sebagai tafsir firman Allah swt.: “Dialah Allah
yang telah menciptakan bagi kalian apa yang ada dilangit dan dibumi ”
(S.Luqman : 20), surat Ibrahim 32-34 (baca suratnya dibawah
ini–pen.) dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menerangkan, bahwa Allah
menciptakan seisi alam ini untuk kepentingan anak-anak Adam. Sebagai-
mana diketahui didalam ayat-ayat tersebut terkandung berbagai hikmah
yang amat besar, bahkan lebih besar daripada itu. Jika anak Adam yang
paling utama dan mulia itu, Muhammad saw. yang diciptakan Allah swt.
untuk suatu tujuan dan hikmah yang besar dan luas, maka kelengkapan dan
kesempurnaan semua ciptaan Allah swt. berakhir dengan terciptanya
Muhammad saw.“. Demikianlah Ibnu Taimiyyah.
Firman-Nya dalam surat Ibrahim 32-34 yang dimaksud Ibnu Taimiyyah ialah:
اللهُ الَّذِى خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَ الاَرْضَ وَاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً َفاَََخْرَجَ بِهِ
مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًالَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِى البَحْرِ بِاَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ
الاَنْهَارَ َوَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَآتَاكُمْ مِنْ
كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْه وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا اِنَّ الاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air
hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu
berbagai buah-buahan menjadi rizki untuk kalian, dan Dia telah
menundukkan bahtera bagi kalian supaya bahtera itu dapat berlayar di
lautan atas kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai bagi
kalian. Dan Dia jualah yang telah menundukkan bagi kalian matahari dan
bulan yang terus menerus beredar dalam orbitnya masing-masing dan
telah menundukkan bagi kalian siang dan malam. Dan Dia jugalah yang
memberikan kepada kalian apa yang kalian perlukan/mohonkan. Dan jika
kalian menghitung-hitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat
mengetahui berapa banyaknya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan
sangat mengingkari (nikmat Allah)”.(QS Ibrahim :32-34).
DAPAT
DISIMPULKAN JUGA BAHWA IBNU TAYMIYAH MENGAKUI KONSEP “NUR MUHAMMAD”
BAHWA NUR NABI MUHAMMAD ADALAH MAKHLUQ YANG PERTAMA KALI DICIPTAKAN. Dan
perhatikan kebiasaan buruk dan kedustaan ibnu taymiyah (mati 721 H)
yang mengatakan “tidak ada ahli ilmu yang mengutipnya” padahal imam Thabrani (wafat 360 H) menulisnya dalam al -ausath, Abu Nu’aim (wafat 430 H) dalam Dala’ilun Nubuwwah dsb.
B. Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.
1. Hadits Shahih dari Abu Sa’id al Khudri Ra.

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri
–semoga Allah meridlainya-, ia berkata: Rasulullah Shallalahu ‘alayhi
wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar dari rumahnya untuk melakukan
shalat (di masjid) kemudian ia berdo’a: Ya Allah sesungguhnya aku
memohon kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang saleh yang berdo’a
kepada-Mu (baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal) dan dengan
derajat langkah-langkahku ketika berjalan ini, sesungguhnya aku keluar
rumah bukan untuk menunjukkan sikap angkuh dan sombong, juga bukan
karena riya’ dan sum’ah, aku keluar rumah untuk menjauhi murka-Mu dan
mencariridla-Mu, maka aku memohon kepada Engkau: selamatkanlah aku dari
api neraka dan ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang
mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau, maka Allah akan meridlainya dan
tujuh puluh ribu malaikat memohonkan ampun untuknya” (H.R. Ahmad dalam
al Musnad, ath-Thabarani dalam ad-Du’a, Ibn as-Sunni dalam ‘Amal al Yaum
wa allaylah,
al Bayhaqi dalam Kitab ad-Da’awat al Kabir dan selain mereka, sanad
hadits ini dihasankan oleh al Hafizh Ibn Hajar, al Hafizh Abu al Hasan
al Maqdisi, al Hafizh al ‘Iraqi, al Hafizh ad-Dimyathi dan lainlain).
Dalam hadits ini terdapat dalil dibolehkannya bertawassul dengan para
shalihin, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Hadits ini
adalah salah satu dalil Ahlussunnah Wal Jama’ah untuk membantah golongan
Wahhabi yang mengharamkan tawassul dan mengkafirkan pelakunya.
2. Hadits Shahih tentang tawassulnya Sahabat yang sembuh penyakit Mata (Buta)
Dari Ustman bin Hunaif yang mengatakan: “Sesungguhnya telah datang
seorang lelaki yang tertimpa musibah (buta matanya) kepada Nabi saw.
Lantas lelaki itu mengatakan kepada Rasulllah; ‘Berdo’alah kepada Allah
untukku agar Dia (Allah swt) menyembuhkanku!’. Kemudian Rasulallah ber-
sabda: ‘Jika engkau menghendaki maka aku akan menundanya untukmu, dan
itu lebih baik. Namun jika engkau menghendaki maka aku akan berdo’a
(untukmu)’. Kemudian dia (lelaki tadi) berkata: ‘Mohonlah kepada-Nya
(untukku)!’. Rasulallah memerintahkannya untuk mengambil air wudhu,
kemudian ia berwudhu dengan baik lantas melakukan shalat dua rakaat.
Kemudian ia (lelaki tadi) membaca do’a tersebut:

‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku datang meng-
hampiri-Mu, demi Muhammad sebagai Nabi yang penuh rahmat. Ya Muhammad,
sesungguhnya aku telah datang menghampiri-mu untuk menjumpai Tuhan-ku
dan meminta hajat-ku ini agar terkabulkan. Ya Allah, jadikanlah dia
sebagai pemberi syafa’at bagiku’.
Utsman bin Hunaif berkata; ‘Demi Allah, belum sempat kami berpisah,
dan belum lama kami berbicara, sehingga laki-laki buta itu menemui kami
dalam keadaan bisa melihat dan seolah-olah tidak pernah buta
sebelumnya”. (HR. Imam at-Turmudzi dalam “Sunan at-Turmudzi” 5/531
hadits ke-3578; Imam an-Nasa’i dalam kitab “as-Sunan al-Kubra” 6/169
hadits ke-10495; Imam Ibnu Majah dalam “Sunan Ibnu Majah” 1/441 hadits
ke-1385; Imam Ahmad dalam “Musnad Imam Ahmad” 4/138 hadits ke-16789;
al-Hakim an-Naisaburi dalam “Mustadrak as-Shohihain” 1/313; as-Suyuthi
dalam kitab “al-Jami’ as-Shoghir” halaman 59, Sunan Ibnu Majah, jilid 1,
hal 331; Mustadrak al-Hakim, jilid 1, hal 313 ; Talkhish al-Mustadrak,
adz-Dzahabi dan sebagainya. Sehingga dari situ, Ibnu Taimiyah pun
menyatakan kesahihannya pula ).
Syeikh Ja’far Subhani melakukan kajian tentang sanad hadits diatas
ini di dalam bukunya yang berjudul Ma’a al-Wahabiy yinfi Khuthathihim wa
‘Aqa’idihim. Dia berkata, “Tidak ada keraguan tentang keshohihan sanad
hadits ini. Bahkan, ulama yang dipercaya oleh kalangan Wahabi yaitu Ibnu
Taimiyyah mengakui keshohihan sanad hadits ini, dengan mengatakan,
‘Sesungguhnya yang dimaksud dengan nama Abu Ja’far yang terdapat di
dalam sanad hadits ini adalah Abu Ja’far al-Khathmi. Dia seorang yang
dapat dipercaya.’
3. Kisah Shahabat yang menyaksikan kisah No. 2, mengajarkan Tawassul ini Pada Masa Khalifah Utsman
Dalam sebuah riwayat panjang tentang kisah
Utsman bin Hunaif (salah seorang sahabat mulia Rasulallah saw.) yang disebutkan oleh
at-Tabrani dari
Abi Umamah bin Sahal bin Hunaif yang bersumber dari pamannya, Utsman
bin Hunaif. Disebutkan bahwa, “Suatu saat seorang lelaki telah beberapa
kali mendatangi khalifah Utsman bin Affan agar memenuhi hajat- nya. Saat
itu, Utsman tidak menanggapi kedatangannya dan tidak pula mem-
perhatikan hajatnya. Kemudian lelaki itu pergi dan ditengah jalan
bertemu Utsman bin Hunaif dan mengeluhkan hal yang dihadapinya
kepadanya. Mendengar hal itu, lantas Utsman bin Hunaif mengatakan
kepadanya: ‘Ambillah bejana dan berwudhulah. Kemudian pergilah ke masjid
(Nabi) dan shalatlah dua rakaat’. Seusainya maka katakanlah:
‘Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan mendatangi-Mu demi Nabi-Mu
Muhammad yang sebagai Nabi pembawa Rahmat. Wahai Muhammad, aku
menghadapkan wajahku kepadamu untuk memohon kepada Tuhanku. Maka
kabulkan-lah hajatku’ Kemudian sebutkanlah hajatmu. Beranjaklah maka aku akan mengiringimu’.
Kemudian lelaki itu melakukan apa yang telah diberitahukan kepadanya.
Selang beberapa saat, lalu ia kembali mendatangi pintu rumah
Utsman (bin ‘Affan).
Utsman pun mempersilahkannya masuk dan duduk di satu kursi dengannya,
seraya berkata: Apakah gerangan hajatmu? Kemudian ia menyebutkan
hajatnya, dan Utsman pun segera memenuhinya. Ia (Utsman) berkata
kepadanya: ‘Aku tidak ingat terhadap hajatmu melainkan baru beberapa
saat yang lalu saja’. Ia (Utsman bin Affan) pun kembali mengatakan:
‘Jika engkau memiliki hajat maka sebutkanlah (kepadaku)’! Setelah itu,
lelaki itu keluar meninggalkan rumah Utsman bin Affan dan kembali
bertemu Utsman bin Hunaif seraya berkata: ‘Semoga Allah membalas
kebaikanmu’ ! Dia (Utsman bin Affan) awalnya tidak melihat dan
memperhatikan hajatku sehingga
engkau telah berbicaranya kepadanya tentangku.
Utsman bin Hunaif berkata: ‘Demi Allah, aku tidak pernah berbicara
tentang kamu kepadanya. Tetapi aku telah melihat Rasulullah saw.
didatangi dan dikeluhi oleh seorang yang terkena musibah penyakit
kehilangan kekuatan penglihatannya, kemudian Nabi bersabda kepadanya:
‘Bersabarlah’! Lelaki itu menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku tidak
memiliki penggandeng dan itu sangat menyulitkanku’. Nabi bersabda:
‘Ambillah bejana dan berwudhulah, kemudian shalatlah dua rakaat,
kemudian bacalah do’a-do’a berikut….’ (
info: ini
mengisyaratkan pada hadits tentang sahabat yang mendatangi Rasulallah
karena kehilangan penglihatannya yang diriwayatkan dalam kitab “Musnad
Ahmad” 4/138, “Sunan at-Turmudzi” 5/569 hadits ke-3578, “Sunan Ibnu
Majah” 1/441 dan “Mustadrak as-Shohihain” 1/313) berkata Ibnu Hunaif:
Demi Allah, kami tidak akan meninggalkan [cara tawassul itu]. Percakapan
itu begitu panjang sehingga datanglah seorang lelaki yang seakan dia
tidak mengidap satu penyakit”. (Lihat: Kitab “Mu’jam at-Tabrani” 9/30
nomer 8311, “al-Mu’jam as-Shoghir” 1/183, dikatakan hadits ini sahih)
Al-Mundziri (At-Targhib jilid 1/44 dan Majma’uz Zawaid jilid
11/279) mengatakan hadits diatas ini shahih begitupun juga Ibnu
Taimiyyah yang mengatakan bahwa hadits yang diriwayatkan At-Thabarani
diatas ini berasal dari Abu Ja’far yang nama aslinya Umar bin Yazid,
seorang perawi hadits yang dapat dipercaya. Abu Abdullah al-Maqdisi
mengatakan bahwa hadits itu shahih. Juga Al-Hafidz Nuruddin Al-Haitsami
membenarkan hadits itu.
4. Hadits tawassul Nabi Muhammad kepada para Nabi yang telah wafat
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan; ketika Fathimah
binti Asad meninggal dunia, Rasulullah saw. datang dan duduk di sisi
kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi ‘ (Allah
merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau saw.
menyebutkan pujian terhadapnya, lantas mengkafaninya dengan jubah
beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayyub
al-Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali
kuburnya. Kemudian mereka
menggali liang kuburnya. Sesampai di
liang lahat, Rasulallah saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan
tanah lahat dengan meng- gunakan tangan beliau saw.. Setelah selesai
(menggali lahat), kemudian Rasulallah saw. berbaring disitu sembari
berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mematikan. Dan Dia Yang selalu
hidup, tiada pernah mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad.
Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat: Kitab al-Wafa’ al-Wafa’)
5. Hadits tawassul Nabi Muhammad kepada para Nabi yang telah wafat (2)
Hadits yang serupa diatas yang diketengahkan oleh At-Thabrani
dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah saw. bertawassul pada dirinya
sendiri dan para Nabi sebelum beliau saw. sebagaimana yang diriwayatkan
dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik, ketika Fathimah binti Asad isteri Abu Thalib, bunda Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw.
wafat, Rasulallah saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah
itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk kedalam lahad,
kemudian berbaring seraya bersabda:
“Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku panggilan ibu, karena Rasulallah saw. ketika masih kanak-kanak hidup dibawah asuhannya,
lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau saw. sendiri)
dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan
Penyayang”. Beliau saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah
itu beliau saw. bersama-sama Al-‘Abbas dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhumaa memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad. ( At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath.)
Dalam kitab Majma’uz-Zawaid jilid 9/257 disebut nama-nama perawi
hadits tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada
perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi
hadit-hadits shohih. Sedangkan para perawi yang disebut oleh At-Thabrani
didalam Al-Kabir dan Al-Ausath semuanya baik (jayyid) yaitu Ibnu Hiban,
Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadits tersebut dari Anas bin
Malik.
Selain mereka terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang
meriwayatkan hadits itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu ‘Abdul Birr
meriwayatkan hadits tersebut dari Ibnu ‘Abbas dan Ad-Dailami
meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadits diatas ini diriwayatkan
dari sumber-sumber yang saling memper- kuat kebenarannya.
Imam Sayyid Muhammad Zaki Ibrahim dalam karyanya “al-Ifhaam wal
Ifhaam @ Qadhaya al-Wasiilah wal Qubur” halaman 32, di mana beliau,
rahimahUllah, menyatakan:-
Dan
juga kita dapat perhatikan di sini bahawa para nabi yang Junjungan Nabi
s.a.w. bertawassul dengan haq mereka kepada Allah dalam hadits tersebut
dan lain-lain hadits telah pun wafat. Maka tsabit harus (jawaz)
bertawassul kepada Allah dengan “haq” atau dengan “ahlil haq” yang hidup
dan yang mati. Justru setelah ini adakah hujjah bagi orang yang menegah
bertawassul?! Ya Allah, tiada kekuatan melainkan denganMu!!
Kalam yang kedua daripada al-Faqih Habib Zain bin Ibrahim BinSumaith
dalam “al-Ajwibah al-Ghaaliyyah” halaman 76, di mana beliau,
hafizahUllah, menyatakan:-
Lihatlah
kepada sabdaan baginda : “dengan haq para nabi sebelumku“, maka itu
adalah dalil yang jelas bagi mengharuskan / membolehkan bertawassul
dengan para nabi setelah kewafatan mereka, sesungguhnya mereka itu hidup
di alam barzakh. Dan demikian pulalah segala waris-waris mereka yang
sempurna dari kalangan para shiddiqin dan awliya. (Yakni boleh
bertawassul dengan mereka semuanya, sama ada yang masih hidup maupun
yang telah wafat).
C. Tawassul kepada Rasulallah saw. dikala wafatnya:
1. Kisal Sahabat Bilal al-habsyi ra.
Abu Darda’ dalam sebuah riwayat menyebutkan: “Suatu saat, Bilal (al-Habsyi)
bermimpi bertemu dengan Rasulallah. Beliau bersabda kepada Bilal: ‘Wahai Bilal, ada apa gerangan dengan ketidak perhatianmu (
jafa’)?
Apakah belum datang saatnya engkau menziarahiku?’. Selepas itu, dengan
perasa- an sedih, Bilal segera terbangun dari tidurnya dan bergegas
mengendarai tunggangannya menuju ke Madinah. Lalu Bilal mendatangi kubur
Nabi sambil menangis lantas
meletakkan wajahnya di atas pusara
Rasul. Selang beberapa lama, Hasan dan Husein (cucu Rasulallah) datang.
Kemudian Bilal mendekap dan mencium keduanya”. (Tarikh Damsyiq jilid 7
Halaman: 137, Usud al-Ghabah karya Ibnu Hajar jilid: 1 Halaman: 208,
Tahdzibul Kamal jilid: 4 Halaman: 289, dan Siar A’lam an-Nubala’ karya
Adz-Dzahabi Jilid: 1 Halaman 358)
Bilal menganggap ungkapan Rasulallah saw. dalam mimpinya
sebagai teguran dari beliau saw., padahal secara
dhohir
beliau saw. telah wafat. Jika tidak demikian, mengapa sahabat Bilal
datang jauh-jauh dari Syam menuju Madinah untuk menziarahi Rasulallah
saw.? Kalau Rasulallah benar-benar telah wafat sebagaimana anggapan
madzhab Wahabi bahwa yang telah wafat itu sudah tiada maka Bilal
tidak perlu
menghiraukan teguran Rasulallah itu. Apa yang dilakukan sahabat Bilal
juga bisa dijadikan dalil atas ketidakbenaran paham Wahabisme –pemahaman
Ibnu Taimiyah dan Muhamad bin Abdul Wahhab– tentang pelarangan
bepergian untuk ziarah kubur sebagaimana yang mereka pahami tentang
hadits
Syaddur Rihal.
Apakah Bilal khusus datang jauh-jauh dari Syam hanya sekedar berziarah dan
memeluk pusara
Rasulallah saw. tanpa mengatakan apapun (tawassul) kepada penghuni
kubur tersebut? Sekarang mari kita lihat riwayat lain yang berkenaan
dengan diperbolehkannya tawassul secara langsung kepada yang telah
meninggal:
“Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan
Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang
ke pusara Rasul dan mengatakan:
‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak)
yang binasa’.
Rasul saw. menemuinya di dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka
akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari jilid 2 halaman 398,
atau as-Sunan al-Kubra jilid 3 halaman 351)
Hadits-hadits diatas mencakup sebagai dalil tentang kebolehan
tabarruk dan
tawassul kepada orang yang
dhahirnya telah wafat, hal itu telah dicontohkan oleh tokoh Salaf Saleh.
2. Kisah Tawassul seorang Badwi pada zaman khalifah Ali ra.
Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul ‘
Mishbah adz-Dzolam’;
Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat
yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi
Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui
setelah tiga hari kita mengebumi- kan Rasulullah. Kemudian ia
menjatuhkan dirinya ke pusara Rasulallah saw. dan
membalurkan tanah
(kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, engkau
telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat
Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; ‘
Sesungguhnya
Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon
ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah
mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang’
(QS an-Nisa: 64) dan aku telah mendzalimi diriku sendiri. Dan aku
mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Kemudian terdengar
seruan dari dalam kubur: ‘Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu’
”. (Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi 2/1361)
Dari riwayat di atas menjelaskan bahwa; bertawassul kepada Rasulullah
pasca wafat beliau adalah hal yang legal dan tidak tergolong syirik
atau bid’ah. Bagaimana tidak? Sewaktu prilaku dan ungkapan
tawassul/istigho- tsah itu disampaikan oleh si Badui di pusara Rasul
–dengan memeluk dan melumuri kepalanya dengan tanah pusara– yang
ditujukan kepada Rasulallah yang sudah dikebumikan, hal itu berlangsung
di hadapan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali sama
sekali tidak menegurnya, padahal beliau adalah salah satu sahabat
terkemuka Rasulullah yang memiliki keilmuan yang sangat tinggi dimana
Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib kw.
sebagai berikut: ‘
Ali bersama kebenaran dan kebenaran bersama Ali’. (Kitab
“Tarikh Baghdad” karya Khatib al-Baghdadi 14/321, dan dengan kandungan
yang sama bisa dilihat dalam kitab “Shohih at-Turmudzi” 2/298).
Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” karya al-Hakim an-Naisaburi 3/124, ‘
Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, keduanya tidak akan pernah terpisah hingga hari kebangkitan’. Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” 3/126, ‘
Aku (Rasulallah saw.)
adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Barangsiapa meng- hendaki (masuk)
kota maka hendaknya melalui pintu gerbangnya’. Dalam Kitab Mustadrak as-Shohihain” 3/122, ‘
Engkau (Ali)
adalah penjelas kepada umatku tentang apa-apa yang mereka selisihkan setelah (kematian)-
ku’. Dan masih banyak lagi riwayat mengenai Khalifah Ali kw.ini.
3. Kisah Al-‘Utbah
Syeikh Abu Manshur As-Shabbagh dalam kitabnya
Al-Hikayatul Masyhur- ah mengemukakan kisah peristiwa yang diceriterakan oleh Al-‘Utbah sebagai berikut:
“Pada suatu hari ketika aku (Al-‘Utbah) sedang duduk bersimpuh dekat
makam Rasulallah saw., tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui. Didepan
makam beliau itu ia berkata: ‘As-Salamu’alaika ya Rasulallah. Aku
mengetahui bahwa Allah telah berfirman
: Sesungguhnya jika mereka ketika berbuat dhalim terhadap diri mereka sendiri segera datang kepadamu (hai Muhammad)
,
kemudian mohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun me mohonkan ampun
bagi mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat
lagi Maha Penyayang (An-Nisa: 64). Sekarang aku datang kepadamu ya
Rasulallah untuk mohon ampunan kepada Allah atas segala dosaku, dengan
syafa’atmu, ya Rasulallah..’. Setelah mengucapkan kata-kata itu ia lalu
pergi. Beberapa saat kemudian aku (Al-‘Utbah) terkantuk. Dalam keadaan
setengah tidur itu aku
bermimpi melihat Rasulallah saw. berkata kepadaku :
‘Hai ‘Utbah, susullah segera orang Badui itu dan beritahu kan kepadanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya’ ”.
Peristiwa diatas ini dikemukakan juga oleh
Imam Nawawi dalam kitabnya
Al-Idhah bab 4 hal. 498. Dikemukakan juga oleh
Ibnu Katsir dalam
Tafsir-nya
mengenai ayat An-Nisa : 64. Para ulama pakar lainnya yang mengetengah-
kan peristiwa Al-‘Utbah ini ialah: Syeikh Abu Muhammad Ibnu Qaddamah
dalam kitabnya
Al-Mughny jilid 3/556 ; Syeikh Abul Faraj Ibnu Qaddamah dalam kitabnya
Asy-Syarhul-Kabir jilid 3/495 ; Syeikh Manshur bin Yunus Al-Bahuty dalam kitabnya
Kisyaful-Qina
(kitab ini sangat terkenal dikalangan madzhab Hanbali) jilid 5/30 dan
Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi jilid 5/265) yang mengemukakan
peristiwa semakna tapi kalimatnya agak berbeda.
Hadits-hadits diatas, jelas lelaki itu tawassul kepada Rasulallah saw
agar beliau saw. berdo’a kepada Allah swt. untuk orang itu. Kalau ini
bukan di katakan sebagai dalil tawassul, mengapa orang tersebut tidak
langsung ber- do’a kepada Allah swt. tanpa mohon kepada beliau saw.
untuk mendo’akannya ?
4. Kisah Shahabat dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (1)
Ad-Darami meriwayatkan: “Penghuni Madinah mengalami paceklik yang
sangat parah. Mereka mengadu kepada Aisyah ra (ummul Mukminin). Aisyah
mengatakan: ‘
Lihatlah pusara Nabi ! Jadikanlah ia (pusara)
sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit’. Dia
(perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya,
kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbuhlah rerumputan dan
gemuklah onta-onta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan
tahun ‘
al-fatq’ (sejahtera)”. (Lihat: Kitab “Sunan ad-Darami” 1/56).
5. Kisah Shahabat dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (2)
Hadits serupa diatas yang diriwayatkan secara berangkai dari Abu
Nu’man dari Sa’id bin Zaid, dari ‘Amr bin Malik Al-Bakri dan dari Abul
Jauza bin ‘Abdullah yang mengatakan sebagai berikut: “Ketika kota
Madinah dilanda musim gersang hebat, banyak kaum muslimin mengeluh
kepada isteri Rasulallah saw. ‘Aisyah ra. Kepada mereka ‘Aisyah berkata:
‘
Datang-lah kemakam Nabi saw. dan bukalah atapnya agar antara makam beliau dan langit tidak terhalang apapun juga’.
Setelah mengerjakan saran ‘Aisyah ra.itu turunlah hujan hingga
rerumputan pun tumbuh dan unta-unta menjadi gemuk”. (ini menggambarkan
betapa banyaknya hujan yang turun hingga kota Madinah menjadi subur
kembali). (Kitab Sunan Ad-Daramy jilid 1/43)
6. Kisah Shahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (3) dan bukti pengkafiran wahaby terhadap sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shohih dari Abu
Salih as-Saman dari Malik ad-Dar –seorang bendahara Umar–. yang ber-
kata: “Masyarakat mengalami paceklik pada zaman (kekhalifahan) Umar.
Lantas seseorang datang
kemakam Nabi saw. seraya berkata: ‘Ya
Rasulullah mohonkan (kepada Allah swt) hujan untuk umatmu, karena mereka
hendak binasa’. Kemudian didalam tidur bermimpi datanglah sese- orang
dan berkata kepadanya: ‘Datangilah Umar’! Saif juga meriwayatkan hal
tersebut dalam kitab
al-Futuh; Sesungguhnya lelaki yang bermimpi tadi adalah
Bilal bin al-Harits al-Muzni, salah seorang sahabat. (Lihat: Kitab Fathul Bari 2/577).

di atas adalah kitab fathul bary syarah sohih bukhary oleh ulama
islam ahli sunnah wal jama’ah al-asya’irah iaitu imam syeikh ibnu hajar
al-asqolany.

di atas pula adalah isi kandungannya dalam permulaan kitab tadi yang
dicetak dengan nama 4 buat syarikat pencetakan menyatakan kitab tersebut
telah di tahkik ( diletak nota ) oleh abdul aziz bin baz
al-wahhabi.lihat line yang telah dimerahkan.

nah….inilah bukti bahawa bin baz mufti wahhabi dan kesemua wahhabi di
malaysia mengkafirkan sahabat nabi muhammad: di atas adalah isi
kandungan kitab tersebut yang ditambah nota kakinya oleh bin baz
al-wahhabi dan kesemu wahhabi di malaysia memperakuinya.tertera pada
line yang berwarna merah hadith nabi yang sahih dalam kitab fathul bary
tersebut menyatakan bahawa sahabat nabi yang bernama bilal al-harith
almuzany telah melakukan amalan tawassul iaitu meminta hujan dari allah
bertawassulkan nabi dinamakan “istisqo’ “.
pada line yang berwarna biru pula adalah kenyataan rasmi bin baz
al-wahhabi dan kesemua wahhabi malaysia mempersetujuinya dimana
kenyataan tersebut amat jelas wahhabi mengkafirkan dan menghukum syirik
sahabat nabi (bilal) kerana bertawassulkan nabi ketika ” istisqo’ “. dan
perhatikan pada kenyataan wahhabi diatas: و ان ما فغله هذا
الرجل منكر ووسيلة الى الشرك yang diertikan “
sesungguhnya apa dilakukan oleh lelaki ini iaitu sahabat nabi muhammad (bilal) adalah satu-satunya pembawa syirik“.
dan perhatikan pada ayat selepasnya lebih jelas wahhabi mengkafirkan
sahabat nabi dan menghukum sahabat nabi muhammad (bilal) sebagai
musyrik.
semoga allah memelihara kita dari terjatuh dalam kancah wahhabi atau
yg seakidah dgn wahhabi.sekalipun nk didakwa wahhabi tak wujud didunia
ini tapi kekufuran mereka masih menyebarkannya termasuk website mereka
yg bertopengkan ahkam.
7. Kisah Shahabat Bilal bin al-Harits al-Muzni dan Ahlu Madinah Bertabaruk dengan makam Nabi (4)
Hadits lainnya yang semakna dengan hadits terakhir diatas ini tentang
tawassul pada Rasulallah saw. dimuka makam beliau yaitu yang
diketengah- kan oleh
Al-Hafidz Abubakar Al-Baihaqy. Hadits itu
diriwayatkan secara berangkai oleh para perawi: Abu Nashar, Ibnu Qatadah
dan Abubakar Al-Farisy dari Abu ‘Umar bin Mathar, dari Ibrahim bin ‘Ali
Adz-Dzihly, dari Yahya bin Yahya dari Abu Mu’awiyah, dari A’masy bin
Abu Shalih dan dari Malik bin Anas yang mengatakan sebagai berikut:
“Pada zaman Khalifah Umar Ibnul Khattab ra. terjadi musim kemarau amat gersang. Seorang datang
kemakam Rasulallah
saw. kemudian berkata: ‘Ya Rasulallah, mohonkanlah hujan kepada Allah
bagi ummat anda. Mereka banyak yang telah binasa’. Pada malam harinya
orang itu mimpi didatangi Rasulallah saw. dan berkata kepadanya:
‘Datanglah engkau kepada ‘Umar dan sampaikan salamku kepadanya.
Beritahukan dia bahwa mereka
akan memperoleh hujan’.
Katakan
juga kepadanya: ‘Engkau harus bijaksana …bijaksana’ ! Kemudian orang
itu segera menyampaikan berita mimpinya kepada Khalifah ‘Umar. Ketika
itu ‘Umar berkata: ‘Ya Rabb (Ya Tuhanku), mereka mohon pertolongan-Mu
karena aku memang tidak dapat berbuat sesuatu’ “.
Hadits itu isnadnya shohih. Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam
Al-Bidayah Wan-Nihayah jilid 1/91
mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 18 H. Ibnu Abi
Syaibah juga mengetengahkan hadits itu dengan isnad shohih dari riwayat
Abu Shalih As-Saman yang berasal dari Malik ad-Dariy, seorang
bendaharawan (Khazin) pada zaman Khalifah Umar. Menurut Saif dalam
kitabnya
Al-Futuh orang yang mimpi didatangi Rasulallah saw. itu ialah sahabat Nabi saw. yang bernama
Bilal bin Al-Harits Al-Muzny. Dalam kitab
Fathul Bari jilid 11/415 Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits tersebut isnadnya
shohih.
8. Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw. (1)
Al-Haitsam bin Khanas meriwayatkan kesaksiannya sendiri sebagai berikut:
“Ketika aku datang kepada ‘Abdullah bin Umar ra.kulihat ada seorang
yang menderita kejang kaki (kaku hingga tidak dapat berjalan). ‘Abdullah
bin Umar berkata kepadanya: ‘Sebutlah orang yang paling kau cintai‘!
Orang yang kejang itu berseru: ‘Ya Muhammad’ ! Saat itu juga aku melihat
ia langsung dapat berjalan seperti orang yang terlepas dari belenggu “.
9. Tawassul dengan hanya menyebut nama Rasulallah saw. (2)
Imam
Mujahid meriwayatkan hadits dari Abdullah bin ‘Abbas sebagai berikut:
“Seorang yang menderita penyakit kejang kaki datang kepada ‘Abdullah
bin ‘Abbas ra. Kepadanya ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: ‘Sebutlah orang
yang paling kau cintai !’ Orang itu lalu menyebut; ‘Muhammad saw’.!
Seketika itu juga lenyaplah penyakitnya“. Ibnu Taimiyyah juga
mengetengahkan riwayat ini dalam kitabnya
Al-Kalimut-Thayyib bab 47 halaman 165.
10. Kisah Shahabat yang menyaksikan kisah No. 2, mengajarkan Tawassul ini Pada Masa Khalifah Utsman
Kisah ini telah dijelaskan pada hadits-hadits pada point B diatas.
D. Allah menjadikan Penolong-penolong bagi Orang Beriman
Disamping itu, sesuatu yang menunjukkan diperbolehkannya tawassul/ istighotsah ialah, ijma’
kaum muslimin,
dan begitu juga sejarah hidup orang-orang yang sezaman dengan
Rasulallah saw. Kaum muslimin, sejak dahulu hingga sekarang, mereka
bertawassul kepada para nabi dan orang-orang sholeh. Tidak ada seorang
ulama pun yang memprotes dan mengharamkan, mensyirikkan perbuatan ini,
kecuali golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya Begitu pun juga halnya
dengan permintaan tolong kepada hamba Allah, tidak langsung kepada Allah
swt., itu adalah mustahab.
1. Allah swt. berfirman:
“Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)
; dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula)
Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”. (Q.S. 66:4)
Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah ketika kita percaya bahwa
Jibril as, orang beriman dan
para malaikat yang juga bisa sebagai
Maula (pelindung) kita dan
Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah ?
Jika kita tetap memakai pengertian Syirik sebagaimana pendapat
golongan pengingkar maka kita secara otomatis telah membuat Allah
sendiri Musyrik (Na‘udzubillah) dan begitu pula dengan orang-orang yang
percaya terhadap seluruh ayat Al-Quran. Dan masih banyak firman Allah
swt. yang mengatakan selain Dia ada hamba-hamba-Nya yang bisa menolong.
1. Hadits Rasulallah saw.:
وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ
Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya”. (HR Muslim, Abu Daud dan lainnya.
2. Hadits :
إنَّ لِلَّهِ خلْـقًا خَلَقَهُمْ لِحَوَائِجِ النَّاسِ يَفْزَعُ
النَّاسُ إلَيْهِمْ فِي حَوَائِجِهِمْ واُولاَئِـكَ الآمِنُوْنَ مِنْ
عَذَابِ اللهِ
“Allah mempunyai makhluk yang diciptakan untuk keperluan orang
banyak. Kepada mereka itu banyak orang yang minta pertolongan untuk
memenuhi kebutuhannya. Mereka adalah orang-orang yang selamat dari siksa
Allah”.
3. Sebuah riwayat dari ‘Abdullah bin Abbas ra. mengatakan bahwa Rasulallah saw. bersabda:
“Banyak Malaikat Allah dimuka bumi selain yang bertugas
mengawasi amal perbuatan manusia. Mereka mencatat setiap lembar daun
yang jatuh dari batangnya. Karena itu jika seorang diantara kalian
tersesat ditengah sahara (atau tempat lainnya), hendaklah ia berseru:
‘Hai para hamba Allah tolonglah aku’ “. (HR.At-Thabrani dengan para
perawi yang terpercaya).
4. ‘Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan, bahwa Rasulallah saw. pernah bersabda:
“Jika seorang diantara kalian ternak piaraannya terlepas
ditengah sahara, hendaklah ia berseru: ’Hai para hamba Allah, tahanlah
ternakku…hai para hamba Allah tahanlah ternakku’. Karena sesungguhnya
Allah mempunyai makhluk (selain manusia) dimuka bumi yang siap memberi
pertolongan”. (HR. Abu Ya’la dan At-Thabarani dengan perawi-perawi yang
dapat dipercaya, kecuali satu orang yang dipandang lemah yaitu Ma’ruf
bin Hasan). Imam Nuruddin ‘Ali bin Abubakar Al-Haitsami juga
mengetengahkan riwayat ini dalam Majma’uz-Zawaid Wa Manba’ul-Fuwa’id
jilid X/132.
- ‘Utbah bin Ghazwan mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulallah saw. bersabda:
“Jika seorang dari kalian kehilangan sesuatu atau ia mem-
butuhkan bantuan, saat ia berada didaerah dimana ia tidak mempunyai
kenalan, maka ucapkanlah; ’Hai para hamba Allah, tolonglah aku’, karena
sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba (makhluk-makhluk ciptaan-Nya
selain manusia) yang tidak kita lihat”. Dan ‘Utbah sendiri telah mencoba
melaksanakan anjuran Rasulallah saw. ini !
Riwayat diatas ini diketengahkan oleh At-Thabarani dengan para
perawi yang dapat dipercaya, kecuali Yazid bin ‘Ali yang oleh
At-Thabarani di pandang lemah, karena Yazid ini tidak hidup sezaman
dengan ‘Utbah. Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lain yang tidak
kami cantumkan disini.
Hadits-hadits diatas ini juga menunjukkan permintaan tolong
kepada hamba Allah yang tidak kelihatan (ghoib), tidak langsung minta
tolong kepada Allah!
Apakah orang yang minta pertolongan pada hamba Allah tidak langsung kepada Allah swt. disebut ‘musyrik atau durhaka’?
Jadi sekali lagi permintaan tolong/istighotsah itu bukan berarti
berbuat ke kufuran apa pun kecuali jika disertai keyakinan sebab utama
pertolongan bukan dari Allah swt. melainkan dari orang yang dimintai
tolong itu sendiri. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa orang yang
mohon pertolongan itu adalah upaya/iktisab sedangkan yang dimintai
pertolongan itu hanya sekedar washithah.
Begitupun juga soal minta syafa’at kepada Nabi atau kepada para
waliyullah atau kepada orang shaleh yang telah wafat. Namun kita tidak
boleh mempunyai keyakinan bahwa Nabi, para waliyullah dan orang-orang
shalih yang telah wafat tersebut dapat memberi syafa’at tanpa seizin
Allah swt. Kaum muslimin juga percaya bahwa yang mohon syafa’at itu
adalah ‘upaya/ iktisab’ sedangkan yang diminta syafa’at adalah
‘washithah’, tidak lebih dari itu !!
E. Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkari tawassul
Muhammad Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang sering menolak atau
mengharamkan tawassul, tetapi anehnya atas pertanyaan yang diajukan
kepadanya, menjawabnya dalam kitab Al-Istifta: “Tidak ada salahnya orang
bertawassul kepada orang-orang sholeh”. Lebih lanjut dia mengatakan,
‘bahwa pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan tawassul
khusus kepada Nabi Muhammad saw. saja, berlainan sekali dengan pendapat
sementara orang yang tidak memperbolehkan minta pertolongan kepada
sesama makhluk’.
Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berpendapat, bahwa persoalan tersebut
adalah persoalan Fiqh. Ia mengatakan: ‘Banyak ulama yang tidak menyukai
hal itu (tawassul). Kalau kami sependapat dengan jumhurul-ulama yang
memandang tawassul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari
atau melarang orang bertawassul. Kami pun tidak mempersalahkan orang
yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak
dapat kami benarkan ialah orang yang lebih banyak minta (berdo’a) kepada
sesama makhluk daripada mohon kepada Allah swt. Yang kami maksud ialah
orang yang minta-minta kepada kuburan, seperti kuburan Syeikh Abdul
Kadir Al-Jailani dan lain-lain. Kepada kuburan-kuburan itu mereka minta
supaya diselamatkan dari bahaya, minta supaya dipenuhi keinginannya dan
lain sebagainya’ “. Demikianlah antara lain yang dikatakan
oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dalam Majmu’atul-Muallafat bagian 111
halaman 68, yang diterbitkan oleh ‘Universitas Islam Imam Muhammad bin
Sa’ud’ dalam pekan peringatan Muhammad Ibnu ‘Abdul-Wahhab.
F. Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya
Jelaslah bagi golongan yang mau berpikir, sekalipun Rasulallah saw.
telah wafat namun ketinggian martabatnya, kemuliaan kedudukannya dan
segala keutamaannya masih tetap disisi Allah swt. Dan pujian-pujian,
tawassul serta salam pada beliau saw. selalu sampai kepadanya. Tidak
lain semua itu dalam usaha mendekatkan diri pada Allah swt. pada
hakekatnya berdasar- kan keyakinan akan kebenaran ayat-ayat Allah dan
Sunnah Nabi saw.
- Hadits yang dikemukakan oleh Al-Hafidz Ismail Al-Qadhi dalam kitabnya tentang shalawat kepada Nabi Muhammad saw. dan Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id dan menilainya sebagai hadits shohih sebagai berikut:
حَياَتيِ خَيْرُْ لَّكُمْ فَاِذَا أَنَامِتُّ كَانَتْ وَفَاتِى خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالَكُم
فَاِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ الله وَأِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ
“Hidupku didunia ini baik untuk kalian. Bila aku telah wafat,
maka wafatku pun baik bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan
diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat sesuatu baik, kupanjatkan puji
syukur kehadirat Allah, dan jika aku melihat sesuatu yang buruk aku
mohon kan ampunan kepada-Nya bagi kalian”.
2. Juga sabda beliau saw. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah ra :
مَا مِنْ اَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ.
“Setiap salam yang disampaikan kepadaku oleh seseorang, Allah akan menyampaikan kepada ruhku agar aku menjawab salam itu”.(HR.Imam Ahmad bin Hambal dan Abu Dawud). Imam Nawawi mengatakan hadits ini isnadnya shohih.
3. ‘Ammar bin Yasir ra meriwayatkan, bahwasanya Rasulallah saw bersabda:
قاَلَ رَسُولُ اللهِ.صَ. اِنَّ اللهَ وَكَّلَ بِقَبْرِى َملَكاً أَعْطاَهُ اللهُ أَسْماَء الْخَلآِئقِ،
فَلآ يُصَلِّى عَلَىَّ اَحَدًا أِلىَ يَوْمِ الْقِياَمَةِ أِلآّ أَبْلَغَنِى بِاِسْمِهِ وَاسْمِ أَبِيْهِ،
هَذَا فُلآنُ اِبْنُ فُلآنُ قَدْ صَلَّى عَلَيْكَ
“Allah mewakilkan Malaikat didalam kuburku. Kepadanya Allah
memberikan nama-nama seluruh umat manusia. Karena itu hingga hari kiamat
kelak setiap orang yang mengucapkan shalawat kepadaku pasti akan
disampaikan oleh Malaikat itu
nama dan nama ayahnya: si Fulan bin si Fulan telah mengucapkan shalawat kepada anda”.
(Hadits
ini diriwayatkan oleh Al-Bazar. Dalam riwayat Abu Syaikh Ibnu Hibban
disampaikan dalam kalimat agak berbeda tetapi sama maknanya, sebagaimana
yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan lain-lain.)
Dari semua hadits tersebut jelas buat kita bahwa Rasulallah saw.
dialam barzakh senantiasa menjawab setiap salam yang disampaikan oleh
ummat-nya kepada beliau saw. Salam artinya keselamatan, dengan demikian
terang lah bahwa Rasulallah saw. selalu berdo’a
keselamatan dan ampunan untuk ummatnya.
4. Anas Ra. Meriwayatkan hadits :
“Semua para nabi adalah hidup didalam kubur dan mereka melakukan
shalat (HR. Imam Baihaqi dalam kitabnya Hayati Anbiya (Nabi-nabi hidup
dalam kuburnya). Allamah Juga meriwayatkan hadits ini dari berbagai
isnad.
5. Hadits Riwayat Muslim, Dari Anas ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :
“Pada malam mi’raj, daku melewati Nabi Musa as. Dan melihatnya shalat didalam kuburnya.”
6. Hadits Riwayat Muslim, mengenai berjumpanya nabi Muhammad dengan para Nabi pada waktu isra mi’raj.
Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Daku Nampak sendiri sekumpulan
Nabi-nabi dan melihat Nabi Ibrahim dan nabi Isa As. Sedang shalat di
dalam keadaan berdiri”.
7. Imam Suyuti Rah. Juga menulis Kitab tentang Hidupnya para nabi di
dalam kuburnya. (KitabFadhilah Shalawat Syaikhul Hadits Maulana
zakariyya Halaman 16).
G. Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya
Lebih mudahnya marilah kita baca sanggahan
Imam
Syaukani terhadap orang yang melarang Tawassul dengan makhluk atau
sesama manusia dalam berdo’a memohon sesuatu kepada Allah swt., berikut
ini:
Imam Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadhiid Fi Ikhlashi Kalimatit Tauhid mengatakan:
“Syeikh ‘Izuddin Ibnu ‘Abdussalam telah menegaskan: ‘Tawassul
yang diper- bolehkan dalam berdo’a kepada Allah hanyalah tawassul dengan
Nabi Muhammad saw., itupun kalau hadits yang mengenai itu shohih’.
Asy-Syaukani selanjutnya berkata, mungkin hadits yang dimaksud
oleh Syeikh ‘Izuddin ialah hadits mengenai soal tawassul yang
dikemukakan oleh An-Nasai dalam Sunan-nya, At-Tirmudzi dan dipandang shohih olehnya
oleh Ibnu Majah dan lain-lain, yaitu ‘sebuah hadits yang meriwayatkan
adanya seorang buta datang menghadap Nabi Muhammad saw…’. (baca hadits
‘Utsman bin Hunaif yang telah kami kemukakan—pen). Mengenai soal itu ada
dua pendapat:
Pendapat pertama: Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Umar bin
Khattab ra. (dalam shohih Al-Bukhori dll.), yaitu setelah Rasulallah
saw. wafat, tiap musim gersang atau paceklik ia bersama kaum Muslimin
berdo’a kepada Allah swt. mohon diturunkan hujan (istisqa) dengan
bertawassul pada paman Nabi saw., yaitu ‘Abbas bin Abdul Mutthalib.
Pendapat kedua : Bertawassul dengan Nabi Muhammad saw.
diperkenan- kan baik dikala beliau saw. masih hidup maupun setelah
wafat, dihadapan beliau mau pun tidak sepengetahuan beliau saw. Mengenai
tawassul dengan Rasulallah saw. dikala hidupnya, tidak ada perbedaan
pendapat. Adapun mengenai tawassul dengan pribadi orang selain beliau
saw. setelah beliau wafat, hal ini disepakati bulat oleh para sahabat
Nabi secara diam-diam.
Tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang mengingkari atau
tidak mem benarkan prakarsa Khalifah Umar ra. untuk bertawassul dengan
paman Nabi saw. yaitu ‘Abbas ra.. Saya (Imam Syaukani) berpendapat:
‘bahwa tawassul diperkenankan tidak hanya khusus pada pribadi Rasulallah
saw. sebagai- mana yang dikatakan oleh Syeikh ‘Izuddin. Mengenai soal
itu ada dua alasan (dalil/hujjah).
Pertama: Telah disepakati bulat oleh para sahabat Nabi saw, yaitu sebagai- mana dikatakan dalam hadits ‘Umar bin Khattab ra’.
Kedua: Tawassul pada para ‘ahlul-fadhl’ (pribadi-pribadi utama
dan mulia) dan para ahli ilmu (para ulama), pada hakekatnya adalah
tawassul pada amal kebajikan mereka. Sebab, tidak mungkin dapat menjadi
‘ahlul-fadhl’ dan ‘ulama’, kalau mereka itu tidak cukup tinggi amal
kebajikannya. Jadi kalau orang berdo’a kepada Allah swt. dengan
mengucap: ‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bertawassul kepada orang
alim yang bernama Fulan…., itu telah menunjukkan pengakuannya tentang
kedalaman ilmu yang ada pada orang ‘alim yang dijadikan washilah. Hal
ini dapat dipastikan kebenarannya berdasarkan sebuah hadits dalam Shohih
Bukhori dan Shohih Muslim tentang hikayat tiga orang dalam goa yang
terhambat keluar karena longsornya batu besar hingga menutup rapat mulut
goa. Mereka kemudian berdo’a dan masing-masing bertawassul dengan amal
kebajikannya sendiri-sendiri. Pada akhirnya Allah mengabulkan do’a
mereka dan terangkatlah batu besar yang menyumbat mulut goa.
Lebih jauh Asy-Syaukani mengatakan
: ‘Kalau bertawassul dengan
amal ke bajikan tidak diperkenankan atau merupakan perbuatan syirik,
sebagai- mana dikatakan oleh Syeikh ‘Izuddin dan para pengikutnya; Tentu
Rasul- Allah saw. tidak akan menceriterakan hikayat tersebut diatas,
dan Allah tidak akan mengabulkan do’a mereka bertiga’.
1. Para penentang tawassul berhujjah: (Tulisan yang di TEBALkan adalah tambahan dari penulis, bukan dari kitab asyaukani)
Nash-nash Al-Qur’an yang dijadikan hujjah/dalil untuk tidak
membenarkan tawassul dengan para ahli takwa dan orang-orang sholeh
seperti firman-firman Allah swt.:
“Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala) kecuali untuk men- dekatkan diri kami sedekatnya dengan Allah”.(Az-Zumar : 3)
َلاَ تَدْعُوْا مَعَ اللهِ اَحَدًا
“…Maka janganlah kalian berdo’a kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang”. (Al-Jin:18)
لَهُ دَعْوَةُ اْلحَقُّ وَالّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهِ لآيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُمْ بِشَيْءٍ
“
Hanya Allah lah (yang berhak mengabulkan) do’a yang benar.
Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan
apapun juga bagi mereka.” (Ar-Ra’ad : 14)
Jawaban :
Ayat-ayat diatas dan ayat-ayat lainnya tidak pada tempatnya dijadikan
hujjah bagi persoalan itu. Bahkan ayat-ayat tersebut oleh mereka hanya
dijadikan dalil untuk memperuncing perselisihan pandangan. Sebab,
ayat-ayat suci tersebut pada hakekatnya adalah
larangan menyekutukan Allah swt. Sedangkan soal tawassul sama sekali buka soal
menyembah sesuatu selain Allah. Ayat-ayat
tersebut ditujukan kepada mereka yang tidak berdo’a kepada Allah swt.,
sedangkan orang yang bertawassul berdo’a hanya kepada Allah swt. tidak
berdo’a kepada sesuatu yang mereka sekutukan dengan Allah !
2. Juga golongan pengingkar ini berhujjah/berdalil pada firman Allah swt. :
وَمَا اَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّ يْنِ ثُمَّ مَا اَدْرَاكَ مَا يَوْمُ
الدِّ يْن يَوْمَ لآ تَمْلِكُ َنفْسُْ لِنَفْسٍ شَيئًا وَالأَمْرُ
يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ
“Tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah
engkau, apakah hari pembalasan itu? Yaitu hari pada saat seseorang
tidak berdaya sedikitpun menolong orang lain; dan segala urusan pada
hari itu berada di dalam kekuasaan Allah” (Al-Infithar:17-19)
Jawaban :
Ayat suci tersebut tidak dapat dijadikan hujjah untuk mengingkari
kebenaran tawassul, karena orang yang bertawassul dengan Nabi, ulama
yang sholeh dan ahli taqwa, sama sekali tidak mempunyai pikiran atau
keyakinan bahwa Nabi, ulama yang sholeh, ahli taqwa atau waliyullah yang
mereka jadikan washilah, itu akan menjadi sekutu Allah atau menyaingi
kekuasaan-Nya pada hari pembalasan ! Setiap muslim tahu benar bahwa
keyakinan seperti itu adalah sesat.
3. Pihak-pihak yang melarang tawassul pada Nabi Muhammad saw. juga meng gunakan firman-firman Allah dibawah ini sebagai dalil:
لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِشَئُْ
“
Tidak ada sedikitpun campur tanganmu (hai Muhammad) dalam urusan mereka (kaum musyrikin)”. (Ali Imran : 128)
Dan firman-Nya lagi : قُلْ لآ اََمْلِكُ لِنَفْسِى نَقْعًا وَلآ ضَرًّا
“
Katakanlah (hai Muhammad)
: ‘Aku tidak berkuasa mendatangkan ke manfaatan bagi diriku, dan tidak pula berkuasa menolak kemadharatan”. (Al-A’raf : 188)
Jawaban :
Itu pun tidak pula pada tempatnya, karena Allah swt. telah
mengaruniakan kedudukan (maqam) terpuji dan tertinggi kepada Rasulallah
saw. yaitu kewenangan memberi syafa’at seizin Allah. Demikian pula
pernyataan beliau saw. kepada kaum kerabatnya, beberapa saat setelah
beliau menerima wahyu Ilahi,
‘dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat’
(Asy-Syu’ara : 214), yaitu: ‘Hai Fulan bin Fulan dan hai Fulanah binti
Fulan, di hadapan Allah aku (Muhammad saw.) tidak dapat memberi
pertolongan apa pun kepada kalian…!
Pernyataan Rasulallah saw. itu tidak berarti lain kecuali bahwa beliau tidak berdaya menangkal madharat/malapetaka yang
telah dikenakan Allah kepada seseorang dan beliau saw. pun tidak berdaya
menolak manfaat yang
telah diberikan Allah swt. kepada seseorang, sekalipun orang itu kerabat beliau sendiri.
Pengertian itu tidak ada kaitannya dengan tawassul. Karena orang yang
bertawassul tetap memanjatkan do’anya kepada Allah swt. Bertawassul
kepada Rasulallah saw. dalam berdo’a tidak berarti lain kecuali
mengharap- kan syafa’at beliau agar Allah swt. berkenan mengabulkan do’a
dan per- mohonan yang diminta. Adapun soal terkabulnya suatu do’a atau
tidak, sepenuhnya berada didalam kekuasaan Allah swt.”. Demikianlah
garis besar pandangan Imam Asy-Syaukani mengenai soal tawassul.