Assalamualaikum Wr. Wb.
Karena posting cukup
panjang (walaupun enggak sepanjang hidup manusia) dan melalui judul
telah jelas kiranya jadi saya memberi prolog berupa hadist berikut :
Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang musafir (HR Bukhari).
Dalam
hadits lain: Untuk apa dunia itu bagiku? Aku di dunia tidak lebih dari
seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya (HR At-Tirmidzi).
Selamat menikmati perjalanan anda !
Alam Arwah
Manusia
merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah swt. setelah
sebelumnya Allah telah menciptakan makhluk lain seperti malaikat, jin,
bumi, langit dan seisinya. Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan
untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan
untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya.
Persiapan
pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia,
yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah
kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qurâan:
Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya
berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar
di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam)
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (Al
Aâraf: 172).
Dengan kesaksian dan perjanjian ini maka
seluruh manusia lahir ke dunia sudah memiliki nilai, yaitu nilai fitrah
beriman kepada Allah dan agama yang lurus.
Maka hadapkanlah
wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. (Ar-Ruum: 30). Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak dilahirkan secara fitrah. Maka kedua orang tuannya yang
menjadikan Yahudi atau Nashrani atau Majusi. (HR Bukhari)
Alam Rahim
Rihlah
pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40
hari berupa nutfah, 40 hari berupa alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari
berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh dan jadilah
janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka lahirlah
manusia ke dunia.
Allah swt. berfirman: Hai manusia, jika
kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah)
sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari
setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal
daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami
jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami
kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan
kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah
kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada
pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia
tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan
air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai
macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Al-Hajj: 5)
Rasulullah
saw. bersabda: Sesungguhnya seseorang dari kalian dikumpulkan
penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah, kemudian ‘alaqoh selama
hari yang sama, kemudian mudghoh selama hari yang sama. Kemudian
diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat;
ketetapan rizki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia. (HR Bukhari dan
Muslim)
Seluruh manusia di dunia apapun kondisi sosialnya
diingatkan tentang awal kejadiannya yang berasal dari benda yang hina,
yaitu sperma lelaki dan sel telur wanita. Manusia sebelumnya belum
dikenal, belum memiliki kemuliaan dan kehormatan. Lalu apakah manusia
akan bangga, congkak, dan sombong dengan kondisi sosial yang dialami
sekarang jika mengetahui asal muasal mereka?
Setelah mencapai 6
bulan sampai 9 bulan atau lebih, dan persyaratan untuk hidup normal
sudah lengkap, seperti indra, akal, dan hati, maka lahirlah manusia ke
dunia dalam keadaan telanjang. Belum bisa apa-apa dan tidak memiliki
apa-apa.
Alam Dunia
Di
dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang
hanya minum air susu ibu lalu tubuh menjadi anak-anak, remaja dan
baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal.
Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya.
Kematian akan datang kapan saja menjemput manusia dan tidak mengenal
usia. Sebagian meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa
anak-anak, sebagian yang lain ketika sudah remaja dan dewasa, sebagian
lainnya ketika sudah tua bahkan pikun.
Di dunia inilah manusia
bersama dengan jin mendapat taklif (tugas) dari Allah, yaitu ibadah. Dan
dalam menjalani taklifnya di dunia, manusia dibatasi oleh empat
dimensi; dimensi tempat, yaitu bumi sebagai tempat beribadah; dimensi
waktu, yaitu umur sebagai sebuah kesempatan atau target waktu beribadah;
dimensi potensi diri sebagai modal dalam beribadah; dan dimensi
pedoman hidup, yaitu ajaran Islam yang menjadi landasan amal.
Allah
Taâala telah melengkapi manusia dengan perangkat pedoman hidup agar
dalam menjalani hidupnya di muka bumi tidak tersesat. Allah telah
mengutus rasulNya, menurunkan wahyu Al-Qurâan dan hadits sebagai
penjelas, agar manusia dapat mengaplikasikan pedoman itu secara jelas
tanpa keraguan. Sayangnya, banyak yang menolak dan ingkar terhadap
pedoman hidup tersebut. Banyak manusia lebih memperturutkan hawa
nafsunya ketimbang menjadikan Al-Qurâan sebagai petunjuk hidup,
akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.
Maka, orang yang bijak
adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya
untuk sebuah produktifitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan.
Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa
detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di
dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal
yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.
Dunia
dengan segala kesenangannya merupakan tempat ujian bagi manusia.
Apakah yang dimakan, dipakai, dan dinikmati sesuai dengan aturan Allah
swt. atau menyimpang dari ajaran-Nya? Apakah segala fasilitas yang
diperoleh manusia dimanfaatkan sesuai perintah Allah atau tidak? Dunia
merupakan medan ujian bagi manusia, bukan medan untuk pemuas kesenangan
sesaat. Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana hidup di dunia.
Ibnu Masâud menceritakan bahwa Rasulullah saw. tidur diatas tikar,
ketika bangun ada bekasnya. Maka kami bertanya: Wahai Rasulullah saw.,
bagaimana kalau kami sediakan untukmu kasur. Rasululah saw. bersabda:
Untuk apa (kesenangan) dunia itu? Hidup saya di dunia seperti seorang
pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan
meninggalkannya.(HR At-Tirmidzi)
Perjalanan hidup manusia di
dunia akan berakhir dengan kematian. Semuanya akan mati, apakah itu
pahlawan ataukah selebriti, orang beriman atau kafir, pemimpin atau
rakyat, kaya atau miskin, tua atau muda, lelaki atau perempuan. Mereka
akan meninggalkan segala sesuatu yang telah dikumpulkannya. Semua yang
dikumpulkan oleh manusia tidak akan berguna, kecuali amal shalihnya
berupa sedekah yang mengalir, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang
shalih. Kematian adalah penghancur kelezatan dan gemerlapnya kehidupan
dunia. Kematian bukanlah akhir kesudahan manusia, bukan pula tempat
istirahat yang panjang. Tetapi, kematian adalah akhir dari kehidupannya
di dunia dengan segala yang telah dipersembahkannya dari amal
perbuatan untuk kemudian melakukan rihlah atau perjalanan hidup
berikutnya.
Bagi orang beriman, kematian merupakan salah satu
fase dalam kehidupan yang panjang. Batas akhir dari kehidupan dunia
yang pendek, sementara, melelahkan, dan menyusahkan untuk menuju
akhirat yang panjang, kekal, menyenangkan, dan membahagiakan. Di surga
penuh dengan kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar
oleh telinga, dan belum terlintas oleh pikiran manusia. Sementara bagi
orang kafir, berupaya menghindar dari kematian dan ingin hidup di dunia
1.000 tahun lagi. Tetapi, sikap itu adalah sia-sia. Utopia belaka.
Karena, kematian pasti datang menjumpainya. Suka atau tidak suka.
Alam Barzakh
Fase
berikutnya manusia akan memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana
mereka tinggal sendiri. Yang akan menemaninya adalah amal mereka
sendiri. Kubur adalah taman dari taman-taman surga atau lembah dari
lembah-lembah neraka. Manusia sudah akan mengetahui nasibnya ketika
mereka berada di alam barzakh. Apakah termasuk ahli surga atau ahli
neraka. Jika seseorang menjadi penghuni surga, maka dibukakan baginya
pintu surga setiap pagi dan sore. Hawa surga akan mereka rasakan.
Sebaliknya jika menjadi penghuni neraka, pintu neraka pun akan dibukakan
untuknya setiap pagi dan sore dan dia akan merasakan hawa panasnya
neraka.
Al-Barra bin Azib menceritakan hadits yang panjang yang
diriwayat Imam Ahmad tentang perjalanan seseorang setelah kematian.
Seorang mukmin yang akan meninggal dunia disambut ceria oleh malaikat
dengan membawa kafan surga. Kemudian datang malaikat maut duduk di atas
kepalanya dan memerintahkan ruh yang baik untuk keluar dari jasadnya.
Selanjutnya disambut oleh malaikat dan ditempatkan di kain kafan surga
dan diangkat ke langit. Penduduk langit dari kalangan malaikat
menyambutnya, sampai di langit terakhir bertemu Allah dan Allah
memerintahkan pada malaikat: Catatlah kitab hambaku ke dalam âilliyiin
dan kembalikan kedunia. Maka dikembalikan lagi ruh itu ke jasadnya dan
datanglah dua malaikat yang bertanya: Siap Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa
lelaki yang diutus kepadamu? Siapa yang mengajarimu? Hamba yang beriman
itu dapat menjawab dengan baik. Maka kemudian diberi alas dari surga,
mendapat kenikmatan di kubur dengan selalu dibukakan baginya pintu
surga, dilapangkan kuburnya, dan mendapat teman yang baik dengan wajah
yang baik, pakaian yang baik, dan aroma yang baik. Lelaki itu adalah
amal perbuatannya.
Dan rihlah
berikutnya adalah kehidupan di hari akhir dengan segala rinciannya.
Kehidupan hari akhir didahului dengan terjadinya Kiamat, berupa
kerusakan total seluruh alam semesta. Peristiwa setelah kiamat adalah
mahsyar, yaitu seluruh manusia dari mulai nabi Adam as. sampai manusia
terakhir dikumpulkan dalam satu tempat. Di sana manusia dikumpulkan
dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan. Saat
itu matahari sangat dekat jaraknya sekitar satu mil, sehingga
mengalirlah keringat dari tubuh manusia sesuai dengan amalnya. Ada yang
sampai pergelangan kaki, ada yang sampai lutut, ada yang sampai pusar,
ada yang sampai dada, bahkan banyak yang tenggelam dengan keringatnya.
Dalam
kondisi yang berat ini manusia berbondong-bondong mendatangi para nabi
untuk meminta pertolongan dari kesulitan yang maha berat itu. Tetapi
semuanya tidak ada yang dapat menolong. Dan terakhir, hanya Rasulullah
saw. yang dapat menolong mereka dari kesulitan mahsyar. Rasulullah saw.
sujud di haribaan Allah swt. di bawah Arasy dengan memuji-muji-Nya.
Kemudian Allah swt. berfirman: Tegakkan kepalamu, mintalah niscaya
dikabulkan. Mintalah syafaat, pasti diberikan. Kemudian Rasululullah
saw. mengangkat kepalanya dan berkata: Ya Rabb, umatku. Dan
dikabulkanlah pertolongan tersebut dan selesailah mahsyar untuk
kemudian melalui proses berikutnya.
Peristiwa berikutnya adalah
hisab (perhitungan amal) dan mizan (timbangan amal) bagi manusia. Ada
yang mendapatkan proses hisab dengan cara susah-payah karena dilakukan
dengan sangat teliti dan rinci. Sebagian yang lain mendapatkan hisab
yang mudah dan hanya sekadar formalitas. Bahkan sebagian kecil dari
orang beriman bebas hisab.
Di antara pertanyaan yang akan
diberikan pada manusia di hari Hisab terkait dengan masalah prinsip
dalam hidupnya. Rasulullah saw. bersabda: Tidak akan melangkah kaki
anak Adam di hari kiamat sehingga ditanya 5 hal di sisi Allah: tentang
umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan,
tentang hartanya dari mana mencarinya, dan ke mana menginfakkannya,
dan apa yang diamalkan dari ilmunya. (HR At-Tirmidzi). Di masa ini juga
dilakukan proses qishash, orang yang dizhalimi meng-qishash orang yang
menzhalimi.
Kejadian selanjutnya manusia harus melalui shirath,
yaitu sebuah jembatan yang sangat tipis dan mengerikan karena di
bawahnya neraka jahanam. Semua manusia akan melewati jembatan ini dari
mulai yang awal sampai yang akhir. Shirath ini lebih tipis dari rambut,
lebih tajam dari pedang, dan terdapat banyak kalajengking. Kemampuan
manusia melewati jembatan itu sesuai dengan amalnya di dunia. Ada yang
lewat dengan cepat seperti kecepatan kilat, ada yang lewat seperti
kecepatan angin, ada yang lewat seperti kecepatan burung, tetapi banyak
juga yang berjalan merangkak, bahkan mayoritas manusia jatuh ke neraka
jahanam.
Bagi orang-orang yang beriman, akan minum telaga
Rasulullah saw. yang disebut Al-Kautsar. Rasulullah saw. bersabda:
Telagaku seluas perjalanan sebulan, airnya lebih putih dari susu,
aromanya lebih wangi dari misik, dan gayungnya sebanyak bintang di
langit. Siapa yang meminumnya, maka tidak akan pernah haus selamanya.
(Muttafaqun alaihi)
Surga dan Neraka
Pada fase yang
terakhir dari rihlah manusia di hari akhir adalah sebagian mereka masuk
surga dan sebagian masuk neraka. Surga tempat orang-orang bertakwa dan
neraka tempat orang-orang kafir. Kedua tempat tersebut sekarang sudah
ada dan disediakan. Bahkan, surga sudah rindu pada penghuninya untuk
siap menyambut dengan sebaik-baiknya sambutan. Neraka pun sudah rindu
dengan penghuninya dan siap menyambut dengan hidangan neraka. Al-Qurâan
dan Sunnah telah menceritakan surga dan neraka secara detail.
Penyebutan ini agar menjadi pelajaran bagi kehidupan manusia tentang
persinggahan akhir yang akan mereka diami.
Orang-orang kafir,
baik dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun orang-orang musyrik, jika
meninggal dunia dan tidak bertobat, maka tempatnya adalah neraka. Neraka
yang penuh dengan siksaan. Percikan apinya jika ditaruh di dunia dapat
membakar semua penghuni dunia. Minuman penghuni neraka adalah nanah
dan makanannya zaqum (buah berduri). Manusia di sana tidak hidup karena
penderitaan yang luar biasa, dan juga tidak mati karena jika mati akan
hilang penderitaannya. Di neraka manusia itu kekal abadi.
Orang-orang
beriman akan mendapatkan surga dan kain sutra karena kesabaran mereka.
Dalam surga mereka duduk-duduk bersandar di atas dipan, tidak
merasakan panas teriknya matahari dan dingin yang sangat. Mereka
dinaungi pohon-pohon surga dan buahnya sangat mudah untuk dipetik.
Mereka juga mendapatkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala
minuman yang sangat bening. Mereka akan minum minuman surga yang
rasanya sangat nikmat seperti minuman jahe yang didatangkan dari mata
air surga bernama Salsabila. Di surga juga ada banyak sungai yang
berisi beraneka macam minuman, sungai mata air yang jernih, sungai
susu, sungai khamr, dan sungai madu.
Penghuni surga akan dilayani
oleh anak-anak muda yang jika dilihat sangat indah bagaikan mutiara
yang bertaburan. Surga yang penuh dengan kenikmatan dan kerajaan yang
besar. Orang beriman di surga memakai pakaian sutra halus berwarna
hijau dan sutra tebal, juga memakai gelang terbuat dari perak dan emas.
Allah swt. memberikan minuman kepada mereka minuman yang bersih.
Dan
yang tidak kalah nikmatnya yaitu istri-istri dan bidadari surga.
Mereka berwarna putih bersih berseri, bermata bulat, pandangannya
pendek, selalu gadis sebaya belum pernah disentuh manusia dan jin. Buah
dadanya montok dan segar, tidak mengalami haidh, nifas, dan buang
kotoran.
Puncak dari semua kenikmatan di surga adalah melihat
sang pencipta Allah yang Maha Indah, Sempurna, dan Perkasa. Sebagaimana
manusia dapat melihat bulan secara serentak, begitu juga manusia akan
memandang Allah secara serentak. Indah, mempesona, takzim, dan suci.
Allah Akbar.
Allah akan memasukkan hambaNya ke dalam surga dengan
rahmat-Nya, dan surga adalah puncak dari rahmat-Nya. Allah Taâala akan
memasukan hamba-Nya ke dalam rahmat (surga) berdasarkan rahmat-Nya
juga. Disebutkan dalam hadits shahih: Sesungguhnya Allah Taâala
memiliki 100 rahmat. Diturunkan (ke dunia) satu rahmat untuk jin,
manusia, dan binatang. Dengan itu mereka saling simpati dan kasih
sayang. Dengan satu rahmat itu pula binatang buas menyayangi anaknya.
Dan Allah swt. menyimpan 99 rahmat bagi hamba-Nya di hari kiamat.
(Muttafaqun alaihi) .
Maka, sejatinya nikmat surga itu jauh dari
apa yang dibayangkan manusia. Rasulullah saw. bersabda: Allah swt.
berkata, Aku telah siapkan bagi hambaKu yang shalih sesuatu yang belum
dilihat mata, belum didengar telinga, dan belum terlintas pada hati
manusia (Muttafaqun alaihi). Apakah akan kita hanya berpuas diri dengan
mengejar satu rahmat Allah yang dibagi-bagi untuk seluruh penduduk
dunia, sementara kita melalaikan 99 rahmat yang tersisa? Semoga kita
termasuk dari sedikit orang yang berpikir. Aamiin